SEMARANG – Bencana banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah, melanda sejumlah kabupaten atau kota. Wilayah terdampak sebagian berada di pesisir utara Jawa Tengah.
Banjir di awal tahun, tidak hanya terjadi di Pekalongan saja. Namun bencana alam berupa banjir dan tanah longsor, tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Ratusan warga menjadi korban dan harus mengalami kerugian materiil. Banjir ini terjadi di Tegal, Brebes dan menyusul kemudian di Pekalongan dan Batang. Dampak terparah dirasakan warga Pekalongan, dengan korban jiwa mencapai 18 orang, dan 9 korban masih dalam pencarian.
Banjir di Pekalongan tidak hanya terjadi di Kecamatan Petungkriyono. Namun juga menyebar di kecamatan lain seperti Kandangserang, Kedungwuni dan lainnya.
Akun instagram @pekalonganinfo memperlihatkan dampak banjir terhadap warga di Desa Kranji Kecamatan Kedungwuni. Mereka nampak bekerja keras membersihkan rumah dari lumpur. Nampak aparat membantu warga untuk membersihkan rumah dan lingkungan mereka.
“Potret warga Kranji, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, yang tetap tabah dan bergotong royong pasca banjir,” tulis akun tersebut.
Warga di Demak, Grobogan, Sragen, Temanggung, Banjarnegara, dan Kota Surakarta, juga ikut menjadi korban.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo telah memprediksi adanya cuaca ekstrim pada periode 20-22 Januari 2025. Cuaca ekstrem terjadi karena beberapa faktor.
Pertama, adanya siklon tropis Sean yang terpantau di Samudra Hindia sebelah barat Australia menyebabkan pola pertemuan angin di wilayah Jateng.
Kedua, aktifnya gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial di Jawa bagian tengah. Hal itu memicu pembentukan awan hujan di wilayah tersebut.
Semua faktor ini mendorong terjadinya hujan deras dengan intensitas sangat tinggi. Alhasil, hujan deras pada Senin (20/1/2025) siang hingga malam mengakibatkan banjir dan longsor di Jawa Tengah dan salah satunya di Kabupaten Pekalongan. (*)






