CILACAP – Keinginan pasangan suami istri untuk punya anak, ternyata ada 2 cara yakni lewat bayi tabung dan inseminasi. Keduan metode ini meningkatkan kemungkinan pasangan untuk bisa punya anak melalui bantuan medis.
Istilah bayi tabung dan inseminasi pada dasarnya adalah memperbesar kemungkinan pasangan punya anak. Metodenya adalah dengan memangkas proses pertemuan antara sperma dan ovum (telur). Juga ada tambahan treatment agar ovum mudah pecah saat akan bertemu sperma.
Tapi kedua program ini ada perbedaan mendasar. Lalu apa perbedaan kedua metode agar pasangan bisa punya anak?
Komisaris RSU Duta Mulya, dr Tatang Mulyana SPOG menjelaskan, perbedaan mendasar itu yakni pada lokasi pertemuan sperma dan ovum
“Kalau bayi tabung, penyatuannya (sperma dan ovum) itu di tabung. Kalau inseminasi penyatuannya di rahim si ibu,” kata
Dia menjelaskan, program bayi tabung adalah mempertemukan sperma dan ovum di dalam tabung khusus. Lalu ada treatment dan pemantauan sampai kemudian gabungan sperma dan ovum berkembang menjadi morula dan tumbuh beberapa sel.
“Baru kemudian ditanamkan kembali di dalam kandungan dan sudah terjadi pembuahan,” katanya.
Sementara inseminasi adalah menyuntikan sperma secara langsung ke dalam rahim perempuan. Namun sebelumnya, dokter akan memperhatikan terlebih dahulu kondisi ovum melalui berbagai metode. Jika ovum sudah siap, maka dokter akan menyuntikan sperma.
Karena itulah, program inseminasi ini harus melibatkan kedua pasangan baik suami dan juga istri. Untuk suami harus mau diambil sperma. Sementara istri ada perawatan dan pemantauan agar ovum benar-benar siap untuk bertemu dengan sperma.
“Treatmen harus keduanya,” kata dia.
Dia menambahkan, kans pasangan punya anak melalui inseminasi mencapai 7 sampai 20 persen. Sementara bayi tabung lebih tinggi yakni 20 sampai 40 persen. (*)






