News  

DB Merebak, 1 Desa Difogging

Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, melakukan fogging di Desa Jenang, Kamis (24/2/2022) pagi. Fogging dilakukan setelah DB merebak dan memakan 1 orang meninggal dunia. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Demam Berdarah atau DB yang merebak hingga memakan korban jiwa, Desa Jenang Kecamatan Majenang, Cilacap harus difogging, Kamis (24/2/2022) pagi. Penyemprotan ini setelah ada warga yang meninggal dunia karena terjangkit DB.

Fogging ini menyisir Dusun Margasari, Losari dan Cigobang. Petugas sejak pagi sudah berada di lokasi dan mempersiapkan segala sesuatu. Selang beberapa saat kemudian, petugas berkeliling kampung di 3 dusun tersebut. Tidak jarang mereka masuk ke gang sempit atau pekarangan rumah warga.

Kepala Puskesmas Majenang 2, Nunung Tri Banowati mengatakan, fogging dilakukan setelah pihaknya melakukan penyelidikan epidemiologi di wilayah tersebut.

“PE sudah dan kemarin kan ada 1 yang meninggal. Bulan (Februari) ini. Hingga 1 desa ini difogging,” kata dia.

Dia menyebutkan, sejak awal tahun 2022 kasus penyebaran DB di desa itu memang fluktuatif. Dalam beberapa kesempatan, terjadi lonjakan. Namun selang waktu kemudian kasus menurun drastis.

Hingga kemudian, DB ini merebak di Desa Jenang Kecamatan Majenang, Cilacap. Dia mencatat, ada 6 orang warga yang terjangkit DBD. Selain itu ada 2 yang memiliki gejala mirip Demam Berdarah.

“Total ada 8. 6 positif DBD dan 2 bergejala,” kata dia.

Menurutnya, faktor penyebaran dan kasus sepanjang di sana bukan semata-mata karena musim penghujan. Namun lebih karena faktor kepadatan wilayah tersebut. Selain itu juga karena kebiasaan warga untuk bisa menerapkan pola hidup sehat.

“Memang kasus DB muncul di awal dan akhir tahun yang bertepatan musim hujan. Tapi perlu kita ingat, nyamuk pembawa virus DB ini tidak tinggal di air mengalir dan kotor. Justru di genangan air yang bersih,” kata dia.

Dia menyebut, kepadatan penduduk juga membawa pengaruh tersendiri. Apalagi jika warga terbiasa menggantung pakaian di dalam rumah yang menjadi tempat nyamu bersembunyi. (*)