Gedong Bunder Cilongkrang. “Masih Ada” Noni Belanda

  • Bagikan
Gedong Bunder, rumah peninggalan jaman belanda yang ada di Desa Cilongkrang, Cilacap. Diperkirakan rumah ini sudah berumur lebih dari 100 tahun. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Penjajahan terhadap bangsa Indonesia oleh Belanda selama 3,5 abad, meninggalkan berbagai cerita dan kerap disertai bukti penting. Mulai dari catatan, bangunan kantor, tempat tinggal hingga makam.

Di Kabupaten Cilacap, bangunan sisa peninggalan penjajah masih bisa dilihat di berbagai lokasi. Mulai dari pusat kota hingga daerah pinggiran. Dan di daerah pinggiran ini, rata-rata berada di pusat kegiatan ekonomi penjajah saat menerapkan “kebijakan” tanam paksa. Seperti perkebunan karet di wilayah barat Cilacap.

Salah satunya ada di Desa Cilongkrang Kecamatan Cipari, Cilacap. Desa di sisi barat Kabupaten Cilacap ini, masih ada bangunan tua yang diperkirakan berumur 100 tahun lebih.

Bangunan ini oleh warga setempat disebut Gedong Bunder. Penamaan ini tidak lepas dari bentuk pintu utama yang terlihat membulat setengah lingkaran. Melihat lokasinya, bangunan ini memang sangat lekat dengan penjajahan karena berada di kawasan perkebunan karet.

Ruang utama di Gedong Bunder. Nampak pintu utama berbentuk setengah lingkaran. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

Desa ini memang berada di jalur perkebunan karet di Kecamatan Wanareja. Desa Cilongkrang juga berbatasan langsung dengan Kecamatan Cipari dan berada di bawah deretan perbukitan. Lokasi ini sejak masa kolonial dijadikan sentra perkebunan karet.

Gedong Bunder juga dekat dengan jalur rel kereta api yang juga dibangun pada masa kolonial. Di sisi barat, tepatnya di Desa Tarisi ada stasiun Meluwung. Stasiun ini sudah tenar sejak jaman dahulu, jauh sebelum pusat kota kecamatan berkembang seperti sekarang ini.

Sekarang, gedung ini menjadi aset pemerintah hingga menjadi kewenangan dan pengelolaan ada di tangan PTPN IX. Gedong Bunder kini menjadi rumah dinas sinder atau kepala kebun wilayah Cilongkrang.

Menilik bangunan lebih teliti, dari luar nampak rumah beratap tinggi dengan pintu membulat setengah lingkaran. Kedua sisi pintu ada deretan kaca dan terhubung dengan teras samping.

Jika melangkah ke dalam, di belakang pintu ada ruangan berukuran besar dan sebagai ruang tamu. Di sisi kanan dan kiri, ada pintu masuk menuju 3 ruang berukuran. Satu ruang diperkirakan menjadi kamar utama berada di sisi barat. Sisanya di sisi timur dengan ukuran lebih kecil.

Penjaga rumah, Nenti mengatakan kalau rumah ini peninggalan belanda. Dia merupakan keturunan ke 3 dari penjaga rumah tersebut. Ibu dan neneknya pernah bekerja di sana dengan tugas sama, melayani sang tuan pemilik rumah.

Menurutnya, bangunan ini memperlihatkan aksen khas rumah kolonial di jaman dulu. Seperti daun pintu dan jendela yang menjulang tinggi. Demikian juga dengan ornamen tertentu yang memiliki fungsi sebagai pengatur aliran udara ke dalam seluruh ruangan.

“Orang eropa ke sini pasti kepanasan hingga rumah harus banyak aliran udara,” ujarnya.

Kusen pintu, jendela dan daun pintu semuanya menggunakan kayu tahun yang sudah berumur tua. Jenisnya adalah kamper dan jati kualitas tinggi. Terlihat dari warna coklat tua yang memperkuat ciri khas kayu tua. Jika dilihat lebih dekat, kayu ini nampak mengkilap tanpa ada lapisan cat apapun.

Pintu dan daun jendela dibuat tinggi agar udara lebih mudah masuk. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

Demikian juga dengan tembok yang tanpa semen untuk merekatkan batu bata merah. Hal ini memperkuat kalau bangunan tersebut memang sudah lama sekali.

Dia mengatakan, dari seluruh ruangan yang ada di rumah tersebut meninggalkan banyak cerita. Salah satunya kamar di sayap timur. Masuk ke kamar itu melalui teras depan dan berbelok ke kiri. Di sana, ada kamar yang “masih berpenghuni”. Tidak main-main, penghuni kamar ini adalah seorang perempuan muda erop atau yang kerap disebut noni belanda.

Cerita ini pernah dia dengar dari beberapa pekerja yang pernah menginap di sana. Mereka kerap didatangi perempuan dengan baju khas jaman kolonial pada malam hari. Tidak jarang, saat mereka sudah lelap, perempuan ini masuk melalui mimpi para pekerja.

“Kebetulan dulu ada yang pekerja proyek nginep. Tiap pagi selalu ada yang cerita kalau didatangi noni belanda,” kata dia.

Di kamar ini, juga masih ada bercak darah yang mengering dan tidak pernah bisa dibersihkan. Darah ini diperkirakan milik keluarga belanda yang terkena peluru dari tentara Jepang.

Keberadaan rumah ini, masih terus menjadi buah bibir warga setempat. Bagi kaum milenial, rumah tua sering menjadi tempat untuk membuat vlog atau video dan diunggah ke media sosial.

Hanya saja, belum diketahui secara pasti kapan rumah ini dibangun atau mulai digunakan. Diperkirakan rumah ini difungsikan sebagai rumah pengawas perkebunan karet pada jama itu.

Dan dari keterangan sejumlah pekerja yang pernah melihat catatan resmi, Nenti mendapat penjelasan kalau rumah tersebut sudah berumur 120 tahun.

“Katanya sudah lebih dari seratus tahun,” tegasnya.

Sekretaris Desa Cilongkrang, Rohmanudin mengatakan kalau rumah ini sangat lekat dengan masa kolonial belanda. Ini dilihat dari lokasinya yang berada di kawasan perkebunan karet dan dekat jalur kereta api.

“Dulu di sini ada Stasiun Cilongkrang. Umurnya juga kurang lebih sama dengan gedong bunder,” tegasnya. (*)

  • Bagikan