JAKARTA – Pelatih Kepala Tim Panjat Tebing Indonesia yang dinonaktifkan, Hendra Basir, membantah tuduhan pelecehan dan kekerasan fisik terhadap delapan atlet nasional.
Hendra menyampaikan bantahan tersebut saat memberikan klarifikasi pada Selasa (24/2/2026) malam. Dia justru menuntut pihak yang menuduhnya untuk menjelaskan secara detail atas tindakannya yang menjadi pelecehan seksual maupun kekerasan fisik.
“Silakan tanyakan kepada delapan atlet terkait, bagian yang mana saya melakukan pelecehan seksual dan kekerasan fisik,” ujar Hendra.
Hingga Surat Keputusan (SK) penonaktifannya terbit dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI), ia tidak pernah menerima permintaan klarifikasi dari federasi.
Sejak melatih pada 2012, ia menerapkan pola latihan keras dan disiplin kepada para atlet. Sampai berbagai pihak mengenalnya sebagai pelatih panjat tebing yang tegas dan galak. Namun menurutnya, sikap tersebut bertujuan membentuk mental dan fisik atlet agar mampu bersaing di level tertinggi.
Terkait tuduhan pelecehan seksual saat menjadi pelatih panjat tebing, Hendra membantah keras. Dia mengaku tidak pernah melakukan tindakan bejat. Seperti meraba bagian vital atau memaksa hubungan seksual terhadap atlet putri.
Ia mengakui pernah memeluk dan mencium kening atau ubun-ubun atlet putri saat mereka mengalami tekanan mental. Atau saat mereka menangis dalam pertandingan maupun latihan. Namun ia menegaskan tindakan itu ia lakukan untuk memberi semangat, bukan dalam konteks melecehkan.
“Kalau mereka sedang menangis atau mentalnya drop, saya peluk dan mencium keningnya. Seperti kebiasaan saya kepada anak sendiri,” katanya.
Namun jika tindakan pelatih panjat tebing tersebut dianggap sebagai pelecehan, maka dia menerima konsekuensi penilaiannya.
Sebut 3 Atlet Putri
Ia menyebut lima atlet putra dan tiga atlet putri melaporkannya kepada Ketua Umum PP FPTI, Yenny Wahid, pada 28 Januari 2026. Dan salah satu atlet putri sempat meminta maaf kepadanya pada pertengahan Januari.
Menurut Hendra, psikolog tim menyatakan tindakannya termasuk pelecehan, meski selama 12 tahun bekerja sama tidak pernah ada peringatan sebelumnya terkait perilaku tersebut.
Hendra menyatakan menerima keputusan penonaktifan sebagai pelatih kepala. Dia juga menyebut belum ada undangan resmi dari federasi untuk memberikan klarifikasi langsung atas tuduhan pelecehan tersebut. (*)






