News  

Intelejen Beri Bocoran AS Akan Kalah Perang Dagang dengan China

ilustrasi AI

JAKARTA – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China akan segera berakhir dan pemenangnya bukan Donald Trump. Ini terlihat dari sikap Donald Trump yang mulai melunak, bahkan seperti menjilat ludahnya sendiri.

Perang dagang antara AS dan China bermula dari kebijakan Donald Trump yang menerapkan bea impor super tinggi. Hampir seluruh negara, baik lawan maupun kawan terimbas keputusan tersebut. Tercatat ada 150 negara yang menerima hukuman Donald Trump.

Namun begitu, China justru mengambil langkah super tegas dengan melakukan perlawanan. China memberlakukan bea masuk yang super tinggi terhadap produk AS.

Setelah diterapkan, sejumlah pengusaha di dalam Negeri Paman Sam mulai mengeluh. Terlebih industri komputer, IT dan sejenisnya yang bergantung pada semi konduktor dari China. Juga adanya perlawanan dari Kongres, masyarakat dan sejumlah pendukung Trump. Salah satunya Elon Musk yang mundur dari posisinya di Kabinet Trump.

Mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono menyebut AS akan kalah menghadapi perang dagang dengan China. Saat ini Kongres AS terus memberikan desakan yang membuat Donald Trump kian terpojok.

Dia bahkan dengan tegas menyebut perang dagang antara China dan AS, akan selesai dalam 3 atau 6 bulan lagi.

“Donald Trump rontok di dalem, dan harus berhadapan dengan Kongres. Pilihan tinggal runtuh atau nyerah,” kata Hendropriyono.

“Dan Donald Trump sudah siap lempar handuk,” katanya.

Indikasi dari kekalahan tersebut adalah pernyataan Presiden Trump yang mengaku sudah melakukan lobby dengan China. Juga dengan mulai membangkangnya Uni Eropa, Kanada yang terimbas kebijakan tarif resiprokal. Selama ini Uni Eropa dan Kanada merupakan kawan AS saat berhadapan dengan Rusia. Indikasi lain adalah berakhirnya perang di Syuriah dan Ukraine yang menjadi unjuk kekuatan AS dan Rusia.

“Perang di Syuriah dan Ukraine juga akan segera berakhir. Karena tidak mungkin AS membuka fron di Laut China Selatan karena akan overstrech. Dan susunan (koalisi Uni Eropa) sudah runtuh dan butuh peluru, makanan. Sementara duit tidak ada,” tegasnya. (*)