JAKARTA – Kebakaran besar di Los Angeles mencatat kerugian yang memecahkan rekor, dengan estimasi kerugian melampaui USD 135 miliar. Ini setara dengan Rp 2,185 triliun. Jumlah ini mencapai hampir sepertiga dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2025.
Jonathan Porter, Kepala Meteorologi AccuWeather, angin kencang memperburuk kebakaran dan yang mempercepat penyebaran api.
“Skala kehancuran ini benar-benar mengejutkan dan menjadi salah satu kebakaran hutan termahal dalam sejarah modern Amerika Serikat,” ungkapnya.
Salah satu lokasi kebakaran di Los Angeles, Palisades dan Eaton telah mengakibatkan kerusakan lebih dari 10.000 bangunan. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sementara evakuasi besar-besaran dilakukan untuk menyelamatkan nyawa penduduk. Estimasi awal dari AccuWeather bahkan memprediksi kerugian total dapat melampaui USD 150 miliar.
Dampak bencana ini tidak hanya terbatas pada properti. Sektor asuransi menghadapi tekanan luar biasa, dengan klaim asuransi diperkirakan mencapai USD 8 miliar.
Selain dampak langsung pada properti, kebakaran ini juga memberikan tekanan besar pada keuangan publik, kesehatan masyarakat, dan sektor pariwisata.
Analis menyebut bahwa biaya pemulihan yang terus meningkat kemungkinan akan memicu kenaikan premi asuransi dan mengurangi aksesibilitas asuransi properti.
Sebagai gambaran, kerugian akibat kebakaran ini jauh melampaui bantuan Amerika Serikat kepada Israel selama perang di Gaza pada 2023, yang mencapai USD17,95 miliar. Bantuan tersebut meliputi dukungan militer dan logistik untuk mendukung operasi di wilayah tersebut. (*)






