BANYUWANGI – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan roadmap jangka panjang untuk mencapai swasembada gula secara penuh pada 2030. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan Indonesia bisa memenuhi kebutuhan konsumsi gula dalam negeri pada 2028, dan mencapai total swasembada dua tahun setelahnya.
Dalam swasembada gula, Kementan menyiapkan strategi utama. Pertama, mengoptimalkan 500.000 hektare lahan eksisting agar produktivitas bisa meningkat signifikan. Kedua, melakukan ekstensifikasi dengan membuka lahan baru seluas 200.000 hingga 500.000 hektare guna mendukung peningkatan volume produksi.
“Kami akan terapkan dua strategi. Lahan eksisting seluas 500.000 hektare kami maksimalkan, dan kami tambah dengan perluasan 200.000 hingga 500.000 hektare lahan baru,” kata Mentan Amran.
Amran menyoroti rendahnya produktivitas tebu saat ini yang hanya mencapai 4 ton per hektare. Dalam kalkluasinya, produksi gula nasional seharusnya bisa mencapai 14 ton per hektare. Dia lalu membandingkan produksi gula di era kolonial Belanda dengan hasil mencapai 10 ton per hektare. Menurutnya, disiplin dan ketegasan menjadi kunci produktivitas tinggi saat itu.
“Kalau dulu di masa penjajahan Belanda bisa 10 ton, kenapa sekarang hanya 4 ton? Padahal kita bisa capai 14 ton per hektare jika serius mengelolanya,” kata Amran.
Sebagai bagian dari roadmap menuju swasembada gula, Kementan juga menggulirkan pembenahan total pada seluruh aspek produksi. Mulai dari perbaikan benih, pola tanam, penguatan sistem hilirisasi hingga tata niaga gula.
“Intinya satu: petani harus untung. Kalau mereka rugi, mereka pasti jera menanam,” tegas Amran. (*)






