religi  

Ketika Ilmu Tak Lagi Menuntun pada Kebenaran dalam Islam

ilustrasi

JAKARTA – Ilmu tak lagi menuntun jika seseorang mengikuti hawa nafsu dan mengabaikan petunjuk Allah. Namun menurutnya, Bal’am bin Ba’ura dikenal alim justru tergelincir ke kesesatan memilih ambisi dunia daripada kebenaran. Allah mengabadikan kisah ini dalam Q.S. Al-A’raf ayat 175 sebagai peringatan bagi para pencari ilmu.

Allah menyampaikan bahwa Bal’am pernah menerima ayat-ayat-Nya, lalu melepaskan diri dan mengikuti setan. Ilmu tak lagi menuntun dirinya ia memilih jalan batil dan berpaling dari hidayah. Para mufasir menjelaskan tokoh berasal Bani Kan’an dan dikenal memiliki karomah.

Bal’am menguasai Ismul A’dzam hingga doanya dikabulkan, tetapi ilmu tak lagi menuntun saat ia memilih dunia. Ia mengabaikan tugasnya sebagai orang alim dan justru hendak mencelakai Nabi Musa.

Allah memerintahkan Musa untuk menghadapi kezaliman Bani Kan’an. Ilmu tak lagi menuntun Bal’am saat ia bersedia membantu para pembesar negeri itu untuk menggagalkan misi kenabian. Meskipun awalnya menolak, akhirnya Bal’am goyah karena rayuan dunia yang terus menggoda.

Bal’am menerima imbalan, lalu ia naik ke bukit dan mencoba melaknat Musa. Ketika itu, manusia menunjukkan bahwa ilmu tak lagi menuntun saat mereka menggunakannya untuk mengkhianati kebenaran. Ia gagal melawan kebenaran dan semakin terjerumus.

Melanggar larangan Nabi Musa

Zamra bin Syalum jatuh dalam jebakan Bal’am dan melanggar larangan Nabi Musa. Ilmu tak lagi menuntun umat yang lalai dari peringatan. Akibat perbuatan itu, Allah menurunkan wabah yang menyebabkan mereka tersesat selama puluhan tahun di padang pasir. Karena itu, para ulama mencatat kisah ini dalam berbagai kitab tafsir dan sejarah sebagai peringatan bagi umat manusia.

Selanjutnya, manusia membuktikan bahwa ilmu tak lagi menuntun bila mereka hanya menjadikannya kisah tanpa memetik hikmahnya. Meskipun demikian, walaupun tergolong israiliyat, para mufasir tetap menggali nilai moral dari kisah tersebut karena memuat pelajaran penting tentang kesombongan dan pengkhianatan.

Di sisi lain, Nabi Muhammad SAW melarang umat Islam mempercayai atau mendustakan kisah ahli kitab tanpa dalil yang jelas. Setelah itu, manusia kembali menunjukkan bahwa ilmu tak lagi menuntun saat mereka memakai ilmu tanpa kehati-hatian dalam memilah kebenaran. Oleh karena itu, mereka tetap harus bersikap kritis ketika menelaah sumber-sumber sejarah.

Syaikh adz-Dzahabi mengelompokkan israiliyat menjadi tiga kategori. Ilmu tak lagi menuntun bila seseorang menerima atau menolak kisah hanya berdasarkan asumsi. Ulama menggunakan kisah itu sebagai pelengkap, bukan sebagai dasar hukum.

Relevansi Kisah Bal’am di Zaman Sekarang

Bal’am mengajarkan bahwa ilmu tak lagi menuntun jika tidak melahirkan akhlak dan integritas. Seorang alim tetap bisa jatuh bila ilmunya tidak membimbing hati.

Di era digital, banyak orang menyebarkan ayat dan hadits tanpa pemahaman utuh.Orang-orang menunjukkan bahwa ilmu tak lagi menuntun bila mereka menjadikannya alat pencitraan dan kekuasaan. Kita harus menjaga niat saat menuntut ilmu, bukan sekadar mengejar pujian atau pengaruh.

Allah memberi ilmu agar manusia semakin dekat kepada-Nya, bukan semakin sombong. Bal’am pernah dekat dengan Allah, namun akhirnya tergelincir karena menuruti nafsu. Manusia menunjukkan bahwa ilmu tak lagi menuntun saat mereka menggunakannya untuk mengkhianati kebenaran. Ya Allah, jadikanlah ilmu yang kami pelajari sebagai cahaya yang menuntun kami kepada-Mu, bukan sebagai hijab yang menjauhkan kami dari-Mu. (*)