News  

Limbah Dapur MBG Bisa Jadi Ancama atau Sumber Cuan Baru? Ahli Ingkatkan Ini

ilustrasi

CIREBON – Direktur Pusat Studi Agama, Lingkungan, dan Sosial ISIF Cirebon, Abdul Malik, mengingatkan bahwa limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan jika tanpa pengelolaan yang tepat. Ia menilai sisa bahan makanan dan limbah cair dari dapur MBG perlu mendapat perhatian serius.

“Kami mendorong pengelola dapur, BGN, dan pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terhadap pengelolaan limbah,” ujar Abdul Malik di Cirebon.

Menurutnya, limbah dari dapur tersebut tidak hanya berupa sampah organik. Namun juga bisa berubap limbah cair dari sabun, minyak dan bahan kimia lainnya yang dapat mencemari air tanah.

“Kalau ke depan volume limbah ini terus meningkat dan tidak dikelola dengan baik, bisa menumpuk hingga ratusan bahkan jutaan ton per hari,” jelasnya.

Meski demikian, Abdul Malik menilai limbah dapur MBG juga dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat. Syaratnya tentu dengan pola pengolahan yang tepat dan memperhatikan masalah lingkungan.

“Jika pengelolaannya baik, limbah ini bisa menciptakan ekosistem lingkungan yang sehat dan memberdayakan masyarakat. Misalnya dengan mengolahnya menjadi pakan ternak,” tambahnya.

Konsultan peternakan Rona Ayudya juga menegaskan, limbah dapur MBG masih bisa berguna sebagai bahan tambahan pakan ternak atau ikan. Caranya dengan mengolah secara tepat. Sekaligus agar tidak menimbulkan bau atau lalat yang berbahaya bagi kesehatan.

“Limbah ini bisa diolah agar tidak menimbulkan bau atau lalat yang membahayakan kesehatan,” katanya.

Melalui evaluasi berkelanjutan serta kolaborasi antara pemerintah, pengelola dapur, dan masyarakat, program MBG tidak sebatas menjaga asupan gizi anak-anak. Tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan warga sekitar. (*)