JAKARTA – Umat Islam di seluruh dunia secara aktif menunaikan ibadah haji sebagai momentum istimewa dalam hidup mereka. Setiap jemaah menghadirkan pengalaman spiritual yang unik ketika menunaikan haji. Para tokoh tasawuf pun secara aktif memahami ibadah ini bukan hanya sebagai perjalanan fisik, tetapi juga sebagai langkah batiniah untuk menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Syekh Abu Nasr Abdullah bin Ali as-Sarraj at-Thusi dalam kitab Al-Luma fi Tarikhit Tashawufil Islami (Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah: 2016) halaman 156-158 mengklasifikasikan tiga kelompok sufi yang menunaikan haji dengan pendekatan berbeda.
1. Menunaikan Ibadah Haji Sekali Seumur Hidup
Tokoh-tokoh sufi kelompok pertama secara sadar memilih menunaikan haji hanya sekali dalam seumur hidup. Mereka memanfaatkan waktu di Tanah Suci dengan memperbanyak ibadah dan menghindari kesia-siaan. Para sufi seperti Abu Yazid Al-Busthami, Junaid Al-Baghdadi, dan Sahl bin Abdullah fokus menjaga perilaku dan waktunya agar ibadah mereka bermakna. KH Ali Mustafa Yaqub mendorong umat Islam yang telah menunaikan haji untuk menggunakan kelebihan hartanya dalam kegiatan sosial, bukan hanya mengulangi ibadah demi kebanggaan.
2. Menunaikan Ibadah Haji Sambil Memutuskan Ikatan Duniawi
Para tokoh sufi kelompok kedua secara total melepaskan diri dari ikatan duniawi saat menunaikan haji. Mereka rela meninggalkan kampung halaman tanpa bekal, hanya mengandalkan kerinduan pada Baitullah dan Rasulullah. Tokoh seperti Hasan Al-Qazzaz Ad-Dainuri dan Bisyr bin Harits tidak menggantungkan diri kepada siapa pun dan percaya bahwa Allah akan membimbing dan melindungi mereka. Ketika mereka menunaikan haji, mereka fokus sepenuhnya kepada Allah meskipun harus menghadapi penderitaan fisik dan keterbatasan materi.
3. Menunaikan Ibadah Haji dan Tinggal di Makkah
Sebagian sufi tidak hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga memilih tinggal di Makkah dalam waktu lama untuk memperkuat spiritualitas. Mereka meyakini bahwa Makkah menyediakan atmosfer ruhani yang mendalam dan mendukung kehidupan zuhud. Para sufi seperti Abu Abdullah bin al-Jala’, Abu Bakr al-Kattani, dan Ahmad At-Tarsusi secara sadar memanfaatkan waktu di tanah gersang itu untuk menjauhkan diri dari kesenangan duniawi dan mendekatkan diri kepada Allah. Mereka terus menunaikan haji sekaligus menjalani hidup dalam kesabaran dan keikhlasan.
4. Menunaikan Ibadah Haji dengan Cara Bersedekah
Tokoh seperti Ali bin Muwafaq menunjukkan bahwa menunaikan ibadah haji bisa dilakukan dalam bentuk sedekah yang ikhlas. Ia memberikan seluruh bekal hajinya kepada tetangganya yang kelaparan, sebagaimana dikisahkan Fariduddin ‘At-Thar dalam Tadzkiratul Auliya. Meski gagal berangkat ke Tanah Suci, ia tetap mendapat pahala setara karena niat dan pengorbanannya. Kisah ini membuktikan bahwa siapa pun bisa menunaikan ibadah haji dalam bentuk pengabdian kepada sesama, bukan hanya dalam bentuk perjalanan fisik semata. (*)






