CILACAP – Suasana hangat dan penuh makna menyelimuti Milangkala atau HUT Desa Panulisan Kecamatan Dayeuhluhur, Cilacap, yang ke-224. Setiap bulan Desember, warga desa berkumpul untuk merayakan hari jadi dengan cara yang sederhana namun sarat nilai. Yakni merawat tradisi Sunda dan mengenang jasa para leluhur yang telah membangun Desa Panulisan sejak ratusan tahun lalu.
Kepala Desa Panulisan, Koko Waskono, menjelaskan bahwa penetapan waktu peringatan hari jadi desa berangkat dari amanat para karuhun.
Bagi Koko, peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ikhtiar menjaga kesinambungan sejarah desa.
“Intinya kami melanjutkan dari karuhun-karuhun. Milangkala Desa Panulisan kami laksanakan setiap bulan Desember,” ujarnya.
Rangkaian Milangkala Desa Panulisan dimulai dengan nyekar atau napaktilas ke makam para leluhur pendiri desa. Warga bersama perangkat desa menyusuri jejak masa lalu, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan. Momen ini menjadi pengingat kalau Desa Panulisan berdiri di atas perjuangan dan pengorbanan para pendahulu.
Puncak perayaan menghadirkan pertunjukan seni yang menegaskan identitas Panulisan sebagai bagian dari budaya Sunda. Koko menegaskan pihaknya sengaja memfokuskan acara pada kesenian tradisional yang mulai jarang tampil.
Beragam kesenian tampil di panggung, seperti Calung dan Ronggeng Gunung. Demikian juga dengan seni modern yang tetap berpijak pada akar budaya lokal.
“Kami memperjuangkan seni-seni Sunda yang asli Panulisan,” katanya.
Antusiasme warga tampak sepanjang dua hari pelaksanaan acara. Lapangan dan area pertunjukan dipadati masyarakat dari berbagai kalangan. Koko melihat kebersamaan itu sebagai kekuatan utama desa.
“Harapannya, seluruh elemen masyarakat terus bekerja sama. Dengan Milangkala Desa Panulisan, kita menjalin kebersamaan, mengenang jasa para leluhur, dan sebagai penerus, kita lebih berjuang membangun desa,” ujarnya.
Di tengah gegap gempita pertunjukan, satu pesan mengemuka. Masyarakat Panulisan tidak kehilangan jati diri sebagai masyarakat Sunda. Dukungan warga justru menguatkan upaya pelestarian budaya. (*)






