MEDAN – Pemerintah memprioritaskan modifikasi cuaca di Sumatera Utara untuk mempercepat penanganan banjir dan tanah longsor sejak awal pekan.
Curah hujan ekstrem yang terus mengguyur membuat akses menuju lokasi bencana masih tertutup longsor. Seperti akses menuju Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyatakan, pemerintah mengaktifkan rencana operasi modifikasi cuaca (OMC). Hal ini untuk menekan intensitas hujan agar akses ke wilayah terdampak dapat segera terbuka.
Tim dari balai PU telah berada di lapangan sejak hari pertama bencana. Namun hujan deras dan longsor berulang membuat jalur bantuan tetap tertutup.
“Kami memprioritaskan modifikasi cuaca di Sumatera Utara agar curah hujan berkurang. Begitu cuaca mengering sedikit, tim bisa langsung menembus lokasi. Alat berat sudah siap, logistik dan solar juga standby,” ujar Dody, Jumat (28/11/2025).
Kementerian PU, katanya akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjalankan OMC. Dody menyebut kebutuhan modifikasi cuaca di Sumatera Utara. Wilayah lain yakni Aceh dan Sumatera Barat juga membutuhkan langkah tersebut karena tengah mengalami peningkatan curah hujan.
“Kita akan meminta BNPB melakukan modifikasi cuaca tidak hanya di Sumut, tapi juga di Aceh dan Sumatera Barat,” tegasnya.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 11 kabupaten dan kota di Sumatera Utara (Sumut) sejak 24 November 2025. Sejak hari pertama, kerusakan kian parah dan terus menimbulkan dampak signifikan.
Hingga Kamis (27/11/2025) pukul 18.30 WIB, total korban tercatat mencapai 212 orang dengan 43 korban meninggal dunia. Selain itu, 81 orang mengalami luka-luka, dan 88 lainnya masih dalam proses pencarian. Bencana ini memaksa 1.168 warga untuk mengungsi. (*)






