JAKARTA – Sebanyak 300 jemaah umroh asal Sulawesi Tengah (Sulteng) masih tertahan di Arab Saudi. Ini terjadi setelah sejumlah negara di kawasan Timur Tengah menutup wilayah udara akibat perang AS dan Iran.
Penutupan wilayah udara ini secara otomatis melumpuhkan penerbangan sipil. Dampaknya lain yakni tertundanya jadwal kepulangan ratusan jemaah umroh asal Indonesia, termasuk rombongan dari Sulawesi Tengah.
Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Tengah, Muchlis Aseng mengatakan, para jemaah umroh saat ini masih tertahan di Arab Saudi. Mereka kini menunggu kepastian jadwal pemulangan.
“Saat ini jemaah umroh asal Sulteng yang masih tertahan di Arab Saudi berjumlah 300 orang. Sebagian masih berada di Madinah karena pembatalan keberangkatan, sementara sebagian lainnya sudah berada di Jeddah untuk proses pemulangan,” kata Muchlis Aseng, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, situasi tersebut terjadi setelah sejumlah negara di kawasan Timur Tengah menutup ruang udara demi menjaga keselamatan penerbangan sipil. Kebijakan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Penutupan ruang udara oleh sejumlah otoritas di Timur Tengah, mengakibatkan banyak pembatalan penerbangan internasional. Baik dari ataupun ke Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab. Demikian juga dengan sejumlah negara di kawasan Teluk lainnya.
Sebelumnya, Dubes RI untuk UEA, Judha Nugraha mengatakan, mayoritas WNI di Dubai ataupun Abu Dhabi merupakan penumpang transit. Saat ini, KBRI terus menjalin komunikasi intensif dengan beberapa maskapai.
Namun, proses pemulangan WNI di ini menghadapi kendala logistik. Di sana ada lebih dari 20.000 penumpang internasional terjebak. Untuk sementara, maskapai memprioritaskan rute dengan jumlah penumpang terbesar.
“Jumlah penumpang menuju Jakarta relatif sedikit sehingga membutuhkan pengaturan khusus,” ujar Judha. (*)






