Bisnis  

Rupiah Menguat, Analis Nilai Tekanan Global Masih Bayangi

ilustrasi ai

JAKARTA — Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu, 30 Juli 2025. Penguatan ini tercatat dalam pembukaan sesi pagi, meskipun analis memperkirakan rupiah belum mampu mempertahankan tren positif hingga akhir hari.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah menguat 0,21 persen atau naik 34,5 poin ke level Rp16.374,5 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB. Sementara itu, indeks dolar AS justru melemah tipis 0,11 persen ke posisi 98,78.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa rupiah menguat pada awal sesi karena faktor teknikal. Namun, ia menilai penguatan ini belum didukung oleh perubahan fundamental. “Rupiah memang menguat, tetapi tekanan eksternal masih tinggi, terutama dari ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan dinamika perdagangan global,” ujar Ibrahim.

Pelaku pasar global saat ini fokus memantau perkembangan negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta kelanjutan perundingan dagang AS dan China yang berlangsung di Swedia. Keduanya berpotensi memengaruhi inflasi dan arah kebijakan moneter global.

Investor juga menanti sinyal dari bank sentral AS terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga. Meski peluang itu terbuka, banyak pelaku pasar memperkirakan The Fed belum akan mengambil keputusan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Dari dalam negeri, sentimen positif muncul dari realisasi investasi nasional. Kementerian Investasi/BKPM melaporkan investasi kuartal II/2025 mencapai Rp477,7 triliun atau tumbuh 11,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini setara dengan 25,1 persen dari target investasi nasional sepanjang tahun.

Meski capaian investasi menunjukkan sinyal positif, Ibrahim menyebut kekuatan domestik belum cukup menopang rupiah di tengah tekanan global. “Dengan tekanan dari luar negeri yang masih kuat, peluang pelemahan rupiah hingga penutupan perdagangan tetap terbuka,” kata Ibrahim.

Rupiah menguat di awal perdagangan, namun pelaku pasar tetap harus mewaspadai sentimen eksternal yang bisa membalikkan arah pergerakan dalam waktu singkat. (*)