News  

Sekjen PBNU: Direktorat Jenderal Pesantren Bentuk Pengakuan Negara

Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam sebuah kesempatan. Gus Ipul menyebut, pembentukan Ditjen Pesantren merupakan hadiah terbaik bagi santri di Indonesia. (doc/kemensos)

JAKARTA – Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan, pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren merupakan kado istimewa dari Presiden Prabowo Subianto bagi seluruh santri Indonesia. Terlebih lagi, kebijakan ini muncul berbarengan dengan Hari Santri Nasional.

“Sebagai santri, saya menyampaikan rasa hormat dan apresiasi kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto karena menginisiasi lahirnya Ditjen Pesantren. Ini adalah kado dari Presiden,” ujar Gus Ipul.

Gus Ipul menilai langkah Presiden Prabowo menandai babak baru dalam kebijakan nasional terhadap dunia pesantren. Ia menegaskan, Direktorat Jenderal Pesantren tidak hanya menjadi lembaga administratif semata. Namun juga simbol pengakuan negara atas peran pesantren dalam membentuk karakter, moral dan kemandirian bangsa.

“Pesantren kini bukan hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Tetapi juga sebagai pusat peradaban, pemberdayaan sosial, ekonomi, dan kemandirian umat. Negara kini hadir lebih dekat ke pesantren dengan memberikan dukungan struktural, anggaran dan kebijakan berkelanjutan,” kata Gus Ipul.

Menurutnya, kebijakan pembentukan Ditjen Pesantren sejalan dengan semangat Hari Santri yang berpijak pada nilai perjuangan dan pengabdian. Karena sejak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para santri telah membuktikan cinta tanah air merupakan bagian dari iman.

“Santri adalah penjaga akhlak bangsa dan benteng moral di tengah zaman yang sering kehilangan arah. Mereka membangun negeri bukan dengan kebencian, tetapi dengan kasih dan ilmu,” ujarnya.

Gus Ipul juga menegaskan, semangat santri kini telah menyatu dalam arah kebijakan negara. Yakni membangun dengan keberpihakan dan menolong dengan kasih sayang. Ia berharap momentum Hari Santri menjadi ajang peneguhan tekad seluruh elemen bangsa untuk terus mengabdi bagi Indonesia.

“Menjadi santri di mana pun kita berada berarti menjaga akhlak, memperkuat keadilan sosial, dan terus berbuat untuk sesama,” pungkas Gus Ipul.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto resmi menyetujui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama. Direktorat ini bertugas untuk meningkatkan pendidikan di pondok pesantren (ponpes) agar tidak sebatas fokus pada pendidikan agama. Namun juga pada bidang keilmuan lainnya. (*)