News  

Sidang Kasus Perundungan Dilakukan Secara Marathon

Tangkapan layar video aksi perundungan dan penganiayaan oleh siswa SMP di Kecamatan Cimanggu, Cilacap. Sidang kasus perundungan ini dilakukan secara marathon. (doc)

CILACAP – Sidang kasus perundungan yang mengakibatkan korban mengalami luka, harus dilakukan secara marathon. Hal ini sesuai dengan regulasi tentang Peradilan Anak.

Dalam sistim Peradilan Anak, seluruh pihak mulai dari hakim, jaksa penuntut hingga pengacara mengakan baju biasa. Beda dengan sidang pada umum yakni para petugas menggenakan baju toga secara lengkap. Tujuannya agar memberikan kesan berbeda dan tidak membuat anak trauma.

Selain itu, pelaksanaan sidang untuk kasus dengan pelaku dan korban sama-sama anak, juga harus cepat. Dan sidang kasus perundungan di Cilacap yang melibatkan anak sebagai pelaku dan korban, juga mengikuti aturan tersebut.

Sidang kasus perundungan ini mulai pada 18 Oktober 2023. Sidang ini berisi tentang pembacaan dakwaan dan pemeriksaan saksi. Hari pertama ini melibatkan saksi dari keluarga korban. Mereka memberikan penjelasan kepada hakim dan jaksa penuntut umum.

Menyusul kemudian, pemeriksaan keterangan dari pihak lainnya sesuai jadwal. Dan seluruh proses persidangan kasus perundungan ini harus cepat.

Pengacara korban perundungan, Muhamad Nabawi mengatakan, sidang kasus perundungan ini berjalan sesuai dengan sistim Peradilan Anak.

“Ini berjalan cepat dan sesuai Peradilan Anak,” katanya.

Pekan ini, sidang sudah mendekati masa akhir. Hingga kemungkinan besar, pekan depan hakim sudah membacakan putusan hukum bagi 2 pelaku perundungan terhadap FF.

“Pekan depan kemungkinan sudah putusan,” katanya.

Merujuk pada pasal yang dikenakan petugas, maka para pelaku terancam hukuman pidana. menggunakan Pasal 170 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara. Penggunaan pasal ini karena korban mengalami luka-luka dan sejalan dengan isi pasal tersebut. Petugas juga menggunakan Pasal 80 Undang Undang Sistim Peradilan Pidana Anak. Bagi pelaku terancam pidana pembinaan selama 3,5 tahun. (*)