CILACAP – Deni Kurniawan, ayah kandung balita korban pembunuhan oleh karyawan bank plecit, masih nampak terpukul. Ini karena kejadian pembunuhan anak nomor dua, masih membekas. Bahkan berhari-hari, dia tidak bisa istirahat dengan tenang.
AKA (3), anak Deni meninggal karena menjadi korban pembunuhan oleh FAS (22), karyawan bank plecit. Deni, warga Desa Adimulya Kecamatan Wanareja, Cilacap, sementara masih tinggal dengan mertuanya.
Sepekan setelah kejadian, ayah dari balita korban pembunuhan ini mulai sedikit terbuka kepada media. Meski begitu, dia masih susah tidur dan sering terjaga sampai subuh. Sabtu (16/8/2025), dia dan keluarga ziarah ke makam AKA dan memanjatkan doa.
Dia sangat ingat, pada 7 Agustus 2025 sempat melakukan panggilan video dengan AKA dan istrinya, RI. Akitifitas menghubungi keluarga sudah menjadi kebiasaanya tiap pagi sebelum berkangkat bekerja sebagai buruh bangunan di Ibu Kota.
Dia pun sempat bercanda, layaknya ayah dengan anak dan juga istrinya. Tidak ada firasat apapun di benak ayah balita yang jadi korban pembunuhan itu.
“Tidak ada firasat apa-apa,” katanya.
Namun di sore hari, dia mendapat kabar dari tetangga kalau anaknya meninggal. Sontak hatinya berkecamuk dan bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, fikirannya kalut dan terus membayangkan AKA. Setiba di rumah, rasa duka terus berkecamuk sampai dia lebih banyak diam.
Hingga setelah pemakaman pada Jumat (8/8/2025), Deni mulai menerima penjelasan tetangga akan kejanggalan kematian AKA.

“Setelah mendengar banyak cerita tetangga, saya dan kakak ipar lapor ke polisi,” katanya.
Kini, polisi sudah menetapkan FAS dan RI sebagai tersangka. Polisi menggunakan pasal 340 KUHP untuk menjerat aksi FAS. Sementara RI terkena Undang Undang Perlindungan Anak.
Beban Berat Deni Kurniawan
Kehilangan anak, plus istri harus masuk penjara, bukan perkara mudah bagi Deni. Apalagi, dia hanya seorang kuli bangunan dan harus tinggal di rumah mertua. Rumah mereka sangat sederhana dan harus terisi oleh 2 keluarga sekaligus.
Sementara rumah orang tua kandung Deni, ada di Desa Tarisi Kecamatan Wanareja. Rumah ini jauh lebih sederhana, bahkan bisa disebut kurang layak huni.
“Bapak saya sudah meninggal. Ibu tinggal dengan kakak perempuan saya di (Desa) Tarisi,” katanya.
Deni sejak kejadian ini, terus mendapatkan dukungan dari keluarga. Salah satunya adalah kakak ipar yang dengan setia mendampingi Deni.
“Kemana-mana selalu sama kakak ipar,” katanya.
Dia mengaku banyak mendapat dukungan dari tetangga terdekat. Demikian juga dengan teman-temannya dari tempat kelahiran di Desa Tarisi.
“Saya sangat berterima kasih atas dukungan ini,” tegasnya. (*)






