CILACAP – BPBD Cilacap menyebutkan, setidaknya ada 105 desa yang terancam krisis air bersih selama kemarau 2023. Seluruh desa ini tersebar di 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Cilacap.
Kemarau tahun ini tidak lepas dari pengaruh fenomena el nino yang salah satu dampaknya adalah kekeringan atau krisis air bersih. Masyarakat Kabupaten Cilacap sudah merasakan kemarau sejak Mei dan akan berlangsung hingga November 2023. Sementara puncak kemarau antara Juli dan Agustus.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Erna Suharyati, Senin (29/5/2023) mengatakan, ada 105 desa yang terancam krisis air bersih.
“Dampak dari el nino untuk kekeringan terjadi ancaman di sekitar 105 desa di 20 kecamatan. Kemarau ini sudah mulai di bulan Mei,” kata Erna.
Dia menambahkan, BPBD sudah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 50 juta atau setara dengan 490 tanki air bersih. Anggaran ini bersumber dari APBD Kabupaten Cilacap tahun 2023. Bantuan tersebut untuk mengatasi krisis air bersih.
“Alokasi anggaran sudah kita siapkan untuk mengantisipasi kekeringan,” kata dia.
Menurutnya, warga yang membutuhkan bantuan air bersih tinggal mengajukan permohonan ke Bupati dan ditembuskan ke BPBD. Surat permohonan ini harus sepengetahuan camat. Surat ini sekaligus menjadi landasan BPBD Cilacap untuk mengirimkan bantuan air bersih.
“Desa bisa mengajukan surat permohonan ke bupati,” kata dia.
Namun jika kondisi mendesak, pemerintah desa bisa mengajukan permohonan melalui sambungan telepon. Sementara surat pengajuan resmi bisa menyusul belakangan.
“Surat bisa disusulkan kalau memang kondisinya mendesak,” katanya.
Sebelumnya, Pj Bupati Cilacap, Yunita Diah Suminar mengatakan, pihaknya sudah melakukan pemetaan terhadap seluruh wilayah. Ini sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman kekeringan. Baik kekeringan biasa sampai esktrim.
“Kemarin baru saja kita rapat koordinasikan. Kita petakan daerah-daerah yang selama ini mengalami kekeringan,” kata Yunita. (*)
