32 Ribu Petasan Diledakkan Polres Cilacap, Hasil Operasi Ketupat Candi

  • Bagikan
Sebagian petasan yang berhasil disita petugas Polres Cilacap selama Operasi Ketupat Candi. Selasa (18/5/2021, 32 ribu petasan dimusnahkan dengan cara diledakan. (narisakti/bercahayanews.com)

Cilacap – Membunyikan petasan seperti menjadi tradisi masyarakat ketika Hari Raya Idul Fitri. Akan tetapi tidak sedikit yang menjadi korban akibat petasan yang meledak.

Di Cilacap sendiri pada akhir April lalu juga terjadi petasan meledak, yang menyebabkan satu rumah di Desa Sidaurip Gandrungmangu hancur, dan beberapa rumah lainnya mengalami rusak ringan.

Mencegah kejadian serupa terulang kembali, Polres Cilacap terus melakukan upaya pencegahan dengan melakukan razia petasan, selama Oprasi Ketupat Candi 2021.

Ribuan butir petasan berhasil diamankan selama H-6 Idul Fitri hingga Operasi Ketupay Candi berakhir.  Secara rinci berupa petasan cengis ada sebanyak 29.781 butir, petasan leo sebanyak 3.087 butir dan ada 2,5 kg obat petasan.

Barang bukti petasan tersebut selanjutnya dimusnahkan oleh Polres Cilacap di lapangan tembak Polsek Maos, pada Selasa (18/5/2021).

Kapolres Cilacap AKBP Leganek Mawardi mengatakan jika pemusnahan petasan ini merupakan yang kedua kali, setelah H-6 Lebaran juga telah dilakukan pemusnahan sebanyak 25 ribu butir petasan.

“Ini merupakan hasil operasi Pekat dengan hasil kurang lebih 32 ribu petasan baik itu yang sudah jadi maupun berupa selongsong, dengan 2,5 kg obat petasan,” ujarnya.

Barang bukti petasan yang dimusnahkan ini merupakan hasil razia di beberapa tempat, diantaranya di Nusawungu, Kroya, Gandrungmangu, dan Cilacap kota. Pemusnahan dilakukan oeh Tim Gegana Brimob Polda Jawa Tengah, dengan mengurai bahan petasan, dan selanjutnya dimusnahkan.

Kapolres menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menyalakan petasan, ataupun membuat petasan dengan ukuran besar. Karena sangat membahayakan, bagi diri sendiri dan juga orang lain.

Apalagi sudah tidak sedikit korban jiwa yang terenggut, akibat petasan yang meledak, karena tidak adanya keamanan.

“Ini memang menjadi tradisi turun temurun di masyarakat, tetapi saat ini standar keselamatan pada pengguna, peracik dan pembuatnya sendiri kurang diperhatikan, sehingga banyak memakan korban baik korban jiwa, harta benda dan juga lingkungan yang tidak nyaman,” katanya. (*)

  • Bagikan