CILACAP – Korban tanah bergerak di Desa Karanggintung Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap boyongan ke huntara, Selasa (11/7/2023). Ini setelah pembangunan huntara sudah selesai dan siap menjadi tempat tinggal bagi 24 keluarga.
Bencana tanah bergerak di RT 003 RW 001 Dusun Pagergunung Desa Karanggintung Kecamatan Gandrungmangu, 19 Mei 2021. Akibatnya sudah adalah munculnya retakan tanah selebar 25 cm dan kedalaman 3 Meter. Tercatat 9 rumah rusak dan 22 KK atau 79 jiwa mengungsi. BPBD Cilacap akhirnya memutuskan menyiapkan huntara untuk para korban yang lokasinya aman dari ancaman tanah bergerak.
Pembangunan huntara mulai 2022 lalu secara bertahap. Pertama adalah penataan lahan diteruskan dengan pembangunan huntara yang bentuknya mirip bangunan di tempat wisata. Anggaran pembangunan huntara ini mengandalkan CSR dari sejumlah perusahaan. Juga ada material bangunan dari BPBD Cilacap dan sarana pendukung dari dinas terkait.
Proses pengerjaan huntara sempat terkendala saat muncul kasus hukum yang menyeret salah satu rekanan. Petugas menjerat pelaku karena melanggar Undang Undang Pertambangan dan Mineral Batubara.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Erna Sumaryati memastikan, korban tanah bergerak mulai boyongan dan menempati huntara.
“Ya betul. Hari ini korban mulai boyongan ke huntara,” katanya.
Dia menambahkan, boyongan ini mendapat dukungan dari relawan bencana seperti MDMC Cilacap. Juga ada aparat terkait di Cilacap. Mereka bersama para korban mulai memindahkan perabot rumah tangga ke dalam huntara. Kegiatan ini mulai pagi hingga selepas siang.
Total ada 24 keluarga yang mulai menempati huntara. Mereka seluruhnya korban tanah bergerak dan tercatat sebagai warga Desa Karanggintung Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap.
Sebelumnya, para korban ini tinggal di rumah kerabat terdekat yang lokasinya aman dari pergerakan tanah. Mereka terus bertahan sambil berharap bisa segera relokasi. Atau setidaknya para korban pergerakan tanah di Desa Karanggitung ini bisa menempati huntara. (*)






