CILACAP – Puncak musim kemarau ternyata masih berlangsung dalam 2 bulan kedepan. Atau, sepanjang puncak itu akan sulit sekali merasakan air hujan. Dan ancaman kekeringan juga bisa bertambah parah.
Indikasi puncak kemarau adalah dengan debit air hujan di tiap bulan. Yakni mulai rendah, menengah, tinggi dan ekstrim. Saat posisi paling rendah, hampir sama dengan puncak kemarau yang selalu kering dan jauh dari hujan. Curah hujan rendah adalah 0 sampai 100 mili liter. Sementara kategori ekstrim yakni di atas 500 mili liter.
Melansir situs bmkg.go.id, curah hujan kategori rendah terjadi antara Agustus sampai Oktober 2023. Ini menandakan kalau selama periode itu nyaris tidak ada hujan sama sekali. Alias sepanjang periode ini terjadi puncak musim kemarau.
“Berdasarkan prediksi curah hujan bulanan BMKG, beberapa wilayah akan mengalami curah hujan bulanan dengan kategori rendah (0 – 100 mm/bulan), utamanya pada Agustus – September – Oktober,” dikutip dari lama BMKG.
Sementara wilayah yang masuk kategori ini tersebar di sejumlah wilayah. Mulai dari Sumatera bagian tengah hingga selatan, pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara. Demikian juga dengan Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.
Dampak dari kemarau ini sudah terlihat di beberapa wilayah. Termasuk di Cilacap dengan adanya krisis air bersih di 6 kecamatan. Wilayah ini meliputi Kecamatan Kawunganten, Gandrungmangu, Patimuan, Dayeuhluhur, Karangpucung dan Bantarsari. (*)






