JAKARTA — Seorang guru sekolah menengah di Malaysia menjadi kesal dan sontak menuai sorotan publik. Ini setelah videonya memperlihatkan guru Malaysia ini kesal atas tulisan murid banyak menggunakan kosakata Bahasa Indonesia. Aksi guru tersebut menuai berbagai reaksi, mulai dari dukungan hingga kritik, dan menyoroti ketegangan kultural antara dua negara serumpun.
Dalam video berdurasi 53 detik yang ramai di TikTok dan X, sang guru Malaysia kesal ketika mendapati murid-muridnya menulis kata-kata seperti “melakukan”, “berkumpul”, dan “menghapus” dalam karangan Bahasa Melayu. Ia menegaskan bahwa kosakata tersebut bukan bagian dari Bahasa Melayu resmi di Malaysia.
“Ini bukan tugas Bahasa Indonesia! Ini Bahasa Melayu. Tolong jaga identiti bahasa kita!” seru guru tersebut dengan nada tinggi, dalam video yang kini telah ditonton jutaan kali.
Guru Malaysia yang kesal ini lalu menuding, para murid terlalu banyak menonton konten dari Indonesia. Hingga bahasa pergaulan mereka terpengaruh bahasa Indonesia dan terbawa hingga saat membuat karangan.
“Kurang-kurang sikit, tengok konten Indonesia tu,” kata dia.
Reaksi dari warganet Malaysia pun terbelah. Sebagian mendukung sikap guru itu sebagai bentuk kecintaan terhadap bahasa nasional. Namun, sebagian lainnya menilai bahwa pengaruh bahasa Indonesia dalam kalangan remaja Malaysia adalah hal wajar, mengingat tingginya konsumsi konten digital asal Indonesia.
“Anak-anak sekarang lebih kenal ‘melakukan’ daripada ‘melaksanakan’, karena tiap hari nonton YouTuber Indonesia,” tulis akun @nadirah.my.
Dari pihak netizen Indonesia, sebagian memahami sikap guru Malaysia yang kesal tersebut. Salah satunya pengguna TikTok bernama Hoe Dinda yang menyatakan bahwa reaksi sang guru masuk akal.
“Wajar lah dia marah, kan dalam karangan harus pakai bahasa negara sendiri. Setuju aku sama guru tu,” ujar Dinda.
Netizen di tanah air menilai, video ini memperlihatkan pengaruh Bahasa Indonesia di Malaysia. Ini terjadi karena Bahasa Indonesia sudah berkembang jauh, dengan mengadopsi bahasa asing dan bahasa daerah. Beda dengan Bahasa Melayu, yang cenderung lebih banyak terpengaruh Bahasa Inggris.






