JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah akan mendata sekolah yang minim murid baru pada tahun ajaran 2025. Langkah ini menyusul setelah adanya sekolah dasar negeri hanya menerima satu atau dua murid saja setelah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Sekolah dengan murid baru super minim kembali terjadi. Setidaknya ada 2 sekolah hanya menerima 1 murid baru. Masing-masing adalah SDN Kauman 27 Solo, Jawa Tengah dan SDN 1 Kendalrejo, Trenggalek di Jawa Timur.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap sekolah minim murid baru. Pendataan ini menggunakan sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Data dari proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) akan menjadi dasar utama dalam identifikasi kondisi ini.
“Nanti setelah selesai SPMB, semua murid akan di input ke Dapodik. Dari situ akan kelihatan sekolah-sekolah mana yang jumlah murid barunya sangat sedikit,” ujar Mu’ti di Gedung DPR RI, Rabu (16/7/2025).
Mu’ti menyebutkan bahwa fenomena sekolah minim murid baru sudah terjadi di beberapa daerah. Bahkan ada sekolah yang terpaksa tutup karena tidak memiliki peserta didik yang cukup.
Ia menekankan, permasalahan ini tidak bisa selesai dengan pendekatan yang seragam. Karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda.
“Penyebabnya harus dilihat secara kasus per kasus. Tidak bisa kita generalisir,” katanya.
Untuk menanganinya, Kementerian Pendidikan akan menggandeng Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) guna merumuskan langkah-langkah kebijakan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Permasalahan ini akan kita bahas bersama Kemendagri. Agar nantinya ada langkah yang tepat dan menyeluruh,” tutup Mu’ti. (*)






