MAKASAR – Tim SAR gabungan melaksanakan evakuasi korban ATR 42 500 melalui jalur darat. Ini setelah kondisi cuaca buruk membatalkan penggunaan helikopter di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Memasuki hari ketiga operasi, tim SAR gabungan mengerahkan 34 personel ahli untuk mengevakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42 500 milik Indonesia Air Transport. Tim menurunkan personel ke tebing curam dengan kemiringan ekstrem untuk menjangkau titik penemuan korban.
Tim SAR menggunakan teknik high angle rescue untuk menarik jenazah dari dasar tebing menuju punggungan utara Gunung Bulusaraung. Medan terjal dan vertikal memaksa seluruh proses evakuasi korban ATR 42 500 harus secara manual dengan peralatan khusus pendakian dan penyelamatan.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan menyatakan, kondisi cuaca menghambat penggunaan sarana udara.
“Opsi evakuasi udara tidak memungkinkan. Kami mengerahkan regu yang terdiri dari 34 personel untuk menjangkau titik penemuan melalui jalur darat,” katanya, Senin (19/1/2026).
Selain mengevakuasi jenazah, tim SAR gabungan melakukan penyisiran lanjutan di sekitar lokasi kejadian. Tiga regu SAR menyisir area perbukitan menggunakan metode electronic search and rescue (e-SAR) untuk memastikan tidak ada korban maupun serpihan penting pesawat yang tertinggal.
Basarnas melaporkan cuaca di lokasi operasi masih berubah-ubah. Tim terus berkoordinasi dengan BMKG Sulawesi Selatan untuk memantau kondisi atmosfer dan menjaga keselamatan personel selama proses evakuasi korban ATR 42 500.
Andi Sultan berharap kondisi cuaca membaik agar tim dapat memindahkan jenazah dari lokasi ekstrem menuju posko utama. Karena hujan yang turun sebelumnya, membuat jalur evakuasi korban ATR 42 500 menjadi sangat licin. (*)






