Kolang Kaling Selama Ramadan Laris Manis, Perajin Naikan Produksi

ilustrasi

CILACAP – Permintaan kolang kaling selama ramadan meningkat tajam di sejumlah daerah. Kondisi ini membuat para perajin di Dusun Cipancur, Desa Ujungbarang, Kecamatan Majenang, Cilacap, meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar selama bulan puasa.

Kolang kaling menjadi salah satu makanan favorit masyarakat saat Ramadan. Banyak orang mengolah buah aren bertekstur kenyal ini menjadi berbagai menu takjil. Sebut saja kolak, es campur, hingga hidangan manis lainnya untuk berbuka puasa.

Dusun Cipancur merupakan salah satu sentra penghasil kolang kaling dan telah berjalan secara turun-temurun. Setiap Ramadan, pembeli dari berbagai daerah berburu kolang kaling ke sana.

Pembeli tidak hanya berasal dari wilayah Cilacap. Pedagang dari Kabupaten Brebes sampai Kota Banjarpatoman di Jawa Barat juga berburu kolang kaling dari perajin setempat.

Salah satu perajin kolang kaling, Turmono (51) mengaku, permintaan tahun ini meningkat dari tahun lalu. Dia 10 pekerja mampu memproduksi hingga dua kuintal kolang kaling setiap hari selama Ramadan.

“Ada peningkatan produksi tahun ini. Kalau sebelumnya hanya satu kuintal, sekarang bisa sampai dua kuintal per hari. Permintaan banyak dari Majenang, Salem, hingga Banjar. Ada yang beli satu kilo atau lebih,” kata Turmono.

Ia menjelaskan proses pembuatan kolang kaling ramadan cukup panjang. Para perajin memetik buah aren dari pegunungan lalu memisahkannya dari tangkai. Setelah itu, mereka merebus buah tersebut selama sekitar dua jam.

Setelah proses perebusan selesai, para perajin mengeluarkan kolang-kaling satu per satu menggunakan sendok. Mereka kemudian merendamnya selama sekitar lima hari hingga buah mengembang dan siap diolah menjadi berbagai hidangan takjil Ramadan.

Meski urusan harga, Turmono mematok dengan harga standar. Namun begitu, ada perbedaan harga sesuai dengan ukuran atau lainnya. Harga kolang-kaling ini antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu perkg. (*)