Bisnis  

Operasi Pasar Tak Pengaruhi Harga Beras

ilustrasi

CILACAP – Operasi pasar dari pemerintah Cilacap, ternyatat tidak membawa pengaruh terhadap penurunan harga beras di pasar tradisional. Harga komoditas pokok itu masih tinggi yakni mencapai Rp 12 ribu.

Seperti di Pasar Majenang, Cilacap. Harga beras di sana masih Rp 12 ribu per kg. Sementara harga beras hasil operasi pasar mencapai Rp 9 ribu.

Kondisi harga beras yang relatif tinggi ini mulai nampak pada awal Februari 2023. Semula harga beras sekitar Rp 11.500 per kg. Perlahan harganya merangkak naik hingga Rp 12 ribu per kg hingga pekan ke 2 Februari 2023.

Kepala Pasar Majenang, Taswa mengatakan, harga tersebut bertahan cukup lama yakni sekitar 2 pekan.

“Harga beras semula Rp 11.500. Naik jadi Rp 12 ribu,” katanya, Jumat (17/2/2023).

Dia mengatakan, saat harga mulai merangkak naik ada intervensi dengan masuknya beras lewat program operasi pasar. Beras ini masuk langsung ke bandar dan pedagang pasar Majenang. Harapannya adalah membuat harga turun dan lebih terjangkau masyarakat.

Namun demikan, setelah sekitar 2 pekan harga beras justru tidak mengalami perubahan. Meski operasi pasar sudah menambah stok beras di pedagang.

“Setidaknya stok beras lebih variatif. Karena perbedaan harga beras ini tergantung jenis beras,” katanya.

Dia memperkirakan, kenaikan harga beras terpengaruh 2 hal. Pertama karena saat ini mayoritas petani belum panen. Kedua karena hasil panen musim tanam lalu tidak terlalu bagus. Hingga produksi beras kemudian berkurang dan mempengaruhi pasokan ke pasar.

“Yang musim tanam sekarang belum panen. Bisa dikatakan masih paceklik. Lalu panen kemarin hasilnya jelek karena banyak kena hama. Ini yang membuat harga beras sekarang cenderung naik,” katanya.

Edi Santoso, salah satu pedagang mengakui, harga komoditas beras bisa lebih tinggi di tingkat pengecer. Kondisi ini seperti tidak terpengaruh sama sekali meski sudah ada operasi pasar.

“Di pengecer atau warung bisa Rp 13 ribu,” tegasnya. (*)