CILACAP – Pj Bupati Cilacap, Yunita Dyah Suminar akui kalau kemiskinan di wilayah ini masih menjadi PR besar. Bahkan masalah ini menjadi hal pertama yang dia ungkapkan usai memimpin upacara Hari Jadi Kabupaten Cilacap ke 167, Selasa (21/3/2023).
Yunita Dyah Suminar pertama kali memimpin Cilacap usai dilantik oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pada 19 November 2022. Dia menggantikan posisi Tatto Suwarto Pamuji yang memasuki masa purna jabatan.
Dan 4 bulan setelah bertugas, Pj Bupati Cilacap ini akui kalau kemiskinan masih jadi PR besar. Karena di sana ada sub masalah, yakni kemiskinan ekstrim.
“Pertama adalah kemiskinan, ada kemiskinan ekstrim,” ujar Yunita.
Dia meneruskan, PR berikutnya adalah masalah pengangguran di Cilacap. Masalah ini tentu harus mendapatkan perhatian serius karena pengangguran kerap membawa berbagai masalah.
Lalu ada masalah kesehatan masyarakat umum. Dia menggaris bawahi masalah stunting, penyakit menular dan tidak menular yang terus menjadi perhatian serius pemerintah.
“Terakhir adalah pendidikan. Karena di Cilacap masih ada kecamatan yang tidak ada SMA atau SMK,” kata dia.
Momen Hari Jadi Cilacap ke 167 menjadi saat tepat untuk melihat ke belakang dan memahami sejarah. Sekaligus menentukan langkah sesuai dengan potensi, masalah dan kekuatan Cilacap. Semua ini untuk mengatasi masalah kemiskinan, pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Cilacap.
“Saya yakin, dengan kekokampakan hambatan akan hilang,” tegasnya.
Ketua DPRD Cilacap, Taufik Nurhidayat menambahkan, pembangunan Cilacap harus berbasis data base. Hal ini tentu disusun oleh pemerintah dalam hal ini eksekutif. Dari data base ini baru pemerintah akan menentukan program hingga pembangunan bisa berjalan.
“Pakai data base. Mau diselesaikan seperti apa? (Tentu) pakai program. Maka jadikan ini sebagai target “medan pertempuran” untuk menyelesaikan program secara bertahap,” katanya.
Puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Cilaca ke 167 ini berlangsung meriah. Sejumlah pertunjukan tari tradisional memeriahkan acara di pusat kota Cilacap itu. Demikian juga dengan sejumlah atraksi dari kelompok masyarakat lainnya. (*)






