Anak Muda Menggelora, Lansia Males Vaksin

  • Bagikan
Warga usia produktif lebih antusias untuk ikut vaksin. Alasan utama karena mereka sering bepergian. (doc)

CILACAP – Kekuatan anak muda hampir bisa dipastikan jauh mengungguli warga lanjut usia (lansia). Anak muda kerap lebih aktif, bergerak cepat dan penuh semangat menggelora. Sementara lansia, gerakannya lebih lambat dan cenderung pasif.

Meski tidak jarang lansia masih punya semangat tinggi. Namun karena kelemahan dalam hal fisik, mereka kerap kali tidak mampu menyelesaikan kegiatan hingga tuntas.

Hal ini juga berlaku dalam keikutsertaan warga lansia dalam mengikuti vaksinasi Covid19. Sebagian dari mereka cenderung hanya ikut vaksin sekali saja. Saat tiba jadwal vaksinasi ke dua, sejumlah lansia enggan untuk datang, Sedangkan vaksin Covid19 diberikan 2 kali dengan rentang waktu 28 hari.

Kepala Puskesmas Majenang 1 Kabupaten Cilacap, Sri Wahyuni mengakui warga lansia memang memilih datang saat jadwal vaksin pertama. Namun saat pemberian vaksin kedua, jumlahnya menurun.

“Waktu pertama memang ikut semua. Tapi yang kedua, jumlahnya berkurang,” ujarnya, Jumat (6/8/2021).

Hal ini berbeda jauh dibandingkan dengan anak muda, terutama yang masuk kategori usia produktif. Mulai dari remaja usia 18 tahun sampai dengan 45. Golongan usia ini cenderung selalu mencari kegiatan yang mengadakan vaksinasi bagi warga umum. Tujuannya satu, yakni bisa memperoleh vaksinasi secara lengkap.

Sri menambahkan, alasan berkurangnya lansia saat vaksin kedua dengan warga usia produktif untuk proaktif pada dasarnya sama. Yakni masalah mobilitas.

Para lansia enggan vaksin kedua karena mereka merasa lebih banyak berada di rumah dan jarang sekali bepergian. Sementara kalangan anak muda, seolah berlomba-lomba untuk memburu vaksinasi. Tujuannya satu, yakni bisa memiliki legalitas berupa sertifikat vaksinasi lengkap agar mereka leluasa bepergian.

Biasanya, kelompok ini adalah pelajar atau mahasiswa, karyawan swasta dan juga para perantau. Sertifikat vaksinasi ini sering dibutuhkan warga saat hendak bepergian dan masuk ke daerah tertentu. Kelompok seperti ini memang sering keluar masuk Kabupaten Cilacap.

Dan saat masuk wilayah tertentu, mereka harus bisa menunjukkan sertifikat vaksin. Selain itu juga ada dokumen pendukung seperti KTP dan surat sehat berdasarkan rapid tes atau PCR.

“Anak muda ini kan sering bepergian. Baik urusan kerja atau lain. Sementara lansia beralasan mereka tidak pernah bepergian ke luar wilayah hingga beranggapan tidak perlu ikut vaksinasi ke dua,” terang Sri Wahyuni.

Namun demikian, penurunan jumlah lansia saat vaksinasi ke dua tidak terlalu menonjol. Di beberapa desa, prosentase penurunan ini mencapai 10 persen. Tapi ada juga yang sampai 30 persen.

“Tidak banyak. Antara 10 sampai 30 persen,” ujarnya.

Neisha, salah satu warga Kecamatan Majenang, Cilacap kepada bercahayanews.com mengaku butuh divaksin karena ada kebijakan di tempatnya bekerja. Perusahaan tersebut mendorong agar para karyawan untuk ikut vaksin lengkap.

“Perusahaan meminta karyawan ikut vaksin. Jadi ya, kita sebagai karyawan nyari vaksinasi massal untuk warga umum,” kata dia. (*)

  • Bagikan