Bagaimana Kekuatan Militer Iran Setelah Perang dengan Israel?

Setelah perang 12 hari melawan Israel, kekuatan militer Iran mengalami pukulan besar. Serangan udara presisi menghancurkan fasilitas nuklir utama di Natanz dan Isfahan, melumpuhkan peluncur rudal, dan menewaskan beberapa jenderal penting Garda Revolusi.

Meski menderita kerusakan parah, Iran masih menyimpan ratusan rudal balistik dan drone tempur seperti Shahed-136 yang siap digunakan kapan saja. Militer Iran juga memiliki lebih dari 600 ribu personel aktif, namun banyak alutsistanya ketinggalan zaman.

Tekanan publik meningkat, tapi pemerintah memperkuat kendali politik dan mempercepat pembangunan ulang aset militer. Saat ini, Iran menghadapi dua pilihan: melanjutkan konfrontasi atau membuka diplomasi untuk meringankan tekanan global.

Iran belum sepenuhnya lumpuh, tapi kekuatannya jelas menurun dan butuh waktu untuk bangkit kembali.

Perang singkat namun menghancurkan antara Iran dan Israel menyisakan dampak besar bagi kekuatan militer Iran. Serangan udara Israel menghantam fasilitas nuklir, markas rudal, radar, hingga pos komando milik Garda Revolusi. Iran kehilangan sejumlah jenderal penting, termasuk tokoh kunci di sektor pertahanan dan nuklir.

Meski begitu, Iran masih memiliki daya gentar. Ratusan rudal balistik jarak jauh seperti Fattah-1 dan Paveh masih aktif. Armada drone seperti Shahed-136 juga tetap beroperasi. Dari sisi jumlah, militer Iran mengerahkan lebih dari 600 ribu personel aktif dan didukung ratusan ribu pasukan cadangan. Namun, sebagian besar persenjataan konvensionalnya masih bergantung pada teknologi lama.

Di dalam negeri, sentimen nasionalisme meningkat. Pemerintah memperkuat pengaruh Garda Revolusi dan mulai memperbaiki infrastruktur militer yang hancur. Saat ini, Iran menghadapi dua jalan: mempercepat program nuklir atau membuka ruang negosiasi.

Iran belum kehilangan kekuatannya sepenuhnya, tapi tekanan dari luar dan dalam membuat langkah berikutnya sangat menentukan.

Selengkapnya di:
https://bercahayanews.com (*)