Coba Tipu Lewat HP, Pemuda Desa Balas Kerjani Penipu

  • Bagikan
Penipuan dengan modus meminta pulsa dan transfer uang mengatasnamakan kepala desa, dibalas oleh pemuda dan warga desa hingga membuat penipu me-nonaktiftkan nomor untuk menipu. (ilustrasi/doc)

CILACAP – Aksi warga dan pemuda Desa Padangsari Kecamatan Majenang, Cilacap menanggapi penipuan bermodus minta pulsa dan mengatasnamakan kades mereka, patut dicontoh. Mereka membalas aksi ini dengan mengirimi beragam pesan ke nomor penipu melalui aplikasi whatsapp.

Baru-baru ini, nomor asing dengan foto profil Kades Padangsari Kecamatan Majenang, Cilacap menghubungi sejumlah warga dan meminta dikirim pulsa. Bahkan nomor ini menempelkan nama Mahruri dalam kontak di layar belakang profil. Semula warga membiarkan permintaan yang dikirim melalui WA tersebut.

Baru setelah ada seorang pemuda mengirimkan tangkapan layar ke grup anak muda desa tersebut, langsung menjadi bahan perbincangan. Mereka meminta agar dibagikan nomor penipu tersebut.

Satu persatu, para anggota grup berkirim pesan ke nomor penipu yang menggunakan foto profil Kades Padangsari, Mahruri.

“Pertama kali saya yang membagikan ke grup pemuda desa. Kebetulan anak-anak kompak dan langsung menghubungi nomor penipu,” ujar Faiq, salah satu pemuda Desa Padangsari Kecamatan Majenang.

Dia lalu meminta agar “si kades” untuk datang ke rumah untuk ngopi. Penipu membalas tidak bisa ke rumah Faiq karena tengah ada tamu. Tentu saja, Faiq tidak mudah percaya begitu saja karena sudah mengenal betul tabiat Mahruri.

Pertama karena kediaman Mahruri berhadapan persis dengan rumah orang tuanya. Kedua karena Mahruri jarang mengirim pesan karena sudah terbiasa berbicara langsung dengan dirinya atau orang tuanya di rumah. Ketiga karena penipu menggunakan bahasa Jawa khas wetan, bukan logat Banyumasan.

“Ini bukan yang pertama, tapi sudah dua kali saya alami,” kata Faiq.

Dia menambahkan, pesan para pemuda setempat sangat beragam. Ada yang meminta bertemu dengan alasan akan membayar hutang, atau sekedar ingin membicarakan masalah terkait desa. Ada juga yang meminta bertemu karena akan mengirim barang dan butuh dibayar langsung atau COD.

“Pokoknya macem-macem. Ada yang mau bayar utang sampai minta COD-an. Tapi penipu bilang tidak bisa ketemu karena sedang ada tamu,” katanya.

Lambat laun, penipu menghapus foto profil dan memblokir nomor warga yang sudah menghubungi. Selang sehari kemudian, nomor ini sudah tidak aktif dan tidak bisa dihubungi.

“Mungkin karena tahu dikerjain anak-anak hingga membuang nomor,” kata dia.

Kepala Desa Padangsari Kecamatan Majenang, Mahruri mengaku sudah 4 kali ini ada penipu yang minta pulsa dan mengatasnamakan dirinya. Dan mayoritas warga tidak percaya karena sudah mengenal nomor telepon miliknya.

“Tidak ada yang percaya karena warga sudah tahu nomor saya,” ujarnya seraya menyebutkan nomor telepon miliknya.

Menurutnya, penipuan berkedok minta pulsa dan menggunakan WA tidak hanya terjadi pada dirinya. Sejumlah kades di Kabupaten Cilacap juga sudah pernah mengalami hal serupa dan mayoritas merasa resah. Termasuk pengurus paguyuban kepala desa tingkat kecamatan ataupun kabupaten.

“Banyak teman-teman kades yang merasa gerah. Bahkan dulu ada yang mengaku bupati dan sudah mengirimkan bantuan. Tapi ujung-ujungnya penipu minta cash back dengan alasan mengurus administrasi bantuan,” kata dia.

“Penipuan ini sudah meresahkan kami selaku kepala desa. Kita sudah berulang kali minta kepada warga agar tidak mengubris jika ada permintaan pulsa atau transfer uang karena ini jelas penipuan,” katanya.

Sekretaris Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Majenang, Tohari mengaku pernah mengalami hal ini. Langkah yang dia lalukan akan membagikan informasi melalui grup WA dan membuat status di medsos. Isinya adalah meminta siapapun untuk membiarkan jika ada permintaan pulsa ataupun transfer uang.

“Ini jelas penipuan dan tidak perlu ditanggapi,” tegasnya. (*)

  • Bagikan