CIANJUR – Petani di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menaikkan harga selada melonjak naik hingga empat kali lipat dalam sebulan terakhir. Sebelumnya mereka menjual satu kantong besar selada seharga Rp 50.000, tetapi kini mereka menjualnya hingga Rp 200.000, bahkan Rp 350.000 di tingkat tengkulak.
Cuaca yang tidak menentu telah menurunkan hasil panen, sehingga petani hanya mampu menyuplai sedikit selada ke pasar. Kondisi ini membuat pasokan menipis dan menyebabkan harga selada melonjak naik ke titik tertinggi sepanjang tahun.
Petani tetap meraih keuntungan karena mereka menjual hasil panen dengan harga tinggi, meskipun biaya produksi ikut naik. Kenaikan harga selada melonjak naik ini membantu mereka menutupi kerugian akibat panen yang berkurang.
Enang Ipal, petani selada dari Kecamatan Pacet, mengungkapkan bahwa ia hanya mampu memanen 20–30 kantong selada per musim, turun dari 45–50 kantong biasanya. Ia menjual seladanya dengan harga selada melonjak naik dari Rp 50.000, lalu Rp 70.000, Rp 100.000, hingga kini mencapai Rp 200.000 per kantong.
Tengkulak membeli dari petani menaikkan harga jual selada yang dikirim ke pasar tradisional menjadi Rp 250.000–Rp 300.000 per kantong. Selain harga selada naik, berat per kantong juga menurun dari 9–10 kilogram menjadi sekitar 7,5–8 kilogram.
Pedagang di Pasar Muka menjual selada dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per kilogram, naik dari harga normal Rp 25.000–Rp 30.000. Mereka mengakui bahwa harga selada naik telah membuat konsumen mengeluh karena mahalnya harga.
Yudi, seorang pedagang sayuran, mengeluhkan bahwa pembeli mulai enggan membeli karena harga selada melonjak naik terlalu tinggi. Ia menyebut stok selada sulit didapat, sehingga ia tidak bisa memenuhi permintaan secara maksimal.
Konsumen kini mengurangi pembelian karena mereka merasa harga selada melonjak naik terlalu membebani. Di Cianjur harga sudah tinggi di kota besar seperti Jakarta, harga selada pasti jauh lebih mahal karena tambahan biaya pengiriman. (*)






