News  

EWS Gempa di Cilacap Terus Dipantau

ilustrasi

CILACAP – Keberadaan alat Early Warning System atau EWS di pesisir Cilacap, mendapat perhatian serius dari BPBD. Petugas tiap bulan menggelar uji coba untuk memastikan seluruh peralatan yang ada di sana berfungsi.

Cilacap termasuk wilayah yang rawan bencana alam. Termasuk bencana gempa bumi dan tsunami. Mengingat wilayah ini pernah terdampak tsunami pada 2006 lalu dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Saat ini, ada sejumlah EWS gempa dan tsunami yang terpasan di pesisir Cilacap. Alat ini dalam kewenangan sejumlah pihak. Mulai dari BMKG hingga instansi terkait lainnya.

Plt Kalak BPBD Cilacap, Arif Pratomo mengatakan, ada 2 EWS gempa yang terpasang di Cilacap milik BMKG. Lokasinya ada di Pantai Tegalkamulya dan Nusawungu.

“BMKG punya di 2 titik,” katanya.

Dari beberapa EWS gempa ini, sebagian sudah menggunakan listrik PLN. Sisanya memakai solar cell atau menggunakan panas matahari sebagai sumber listrik. EWS gempa dengan solar cell ini milik BMKG yang terpasang di Cilacap.

“Yang punya BMKG pakai solar cell,” katanya.

Dia mengatakan, BPBD selalu melakukan uji coba terhadap EWS gempa dan tsunami yang ada. Tujuannya agar bisa melihat kondisi tiap alat. Jika memang ada yang rusak, maka harus ada perbaikan.

“Tujuannya kan itu. Kalau ada yang rusak segera kita perbaiki,” kata dia.

Terkait ancaman gempa megathrust dia menyebut ada 3 segmen di selatan Jawa. Jika 3 titik ini bergerak atau ambruk bersama-sama, maka bisa menimbulkan gempa berkekuatan 8,7 M.

“Jadi megathrust di selatan jawa itu ada 3 segmen. Jika ketiga-tiganya ambruk, itu yang bisa menimbulkan gempa 8,7,” katanya.

“Di Indonesia ada 13 segmen megathrust. Termasuk 3 yang di elatan Jawa itu,” katanya lagi.

Dia mengatakan, Indonesia memang rawan terjadi gempa. Terbukti dengan adanya gempa dan nyaris terjadi tiap hari meski dengan skala kecil. Terbaru, gempa di daratan, tepatnya di barat daya Kabupaten Tegal, Jumat (15/12/2023). Gempa terjadi pada pukul 21.24 WIB dan berkekuatan 4,3 M.(*)