Indonesia Tolak Ajakan Airdrop, Pilih Kirim Beras ke Palestina Lewat Jalur Darat

ilustrasi

JAKARTA – Di tengah ajakan Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengirim bantuan lewat udara, pemerintah Indonesia memilih untuk kirim beras ke Palestina lewat jalur darat. Pemerintah memastikan akan kirim beras sebanyak 10.000 ton untuk rakyat Palestina.

Perang antara Palestina dan Israel yang terjadi sejak Oktober 2023, sudah menewaskan lebih dari 60 ribu orang. Selain itu, setidaknya 147 orang, meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi. Termasuk 88 anak-anak akibat kelaparan. Wilayah Gaza memang tengah kekurangan pangan parah akibat serangan Israel dan pembatasan pengiriman bantuan.

Israel, meski sudah ada gencatan senjata, masih saja membatasi akses bantuan ke ke Gaza di Palestina. Hingga banyak negara memutuskan pengiriman melalui udara atau airdrop.

Meski begitu, Indonesia memilih untuk kirim beras ke Palestina melaui jalur darat. Keputusan ini dengan mempertimbangkan kelancaran pengiriman bantuan.

“Kita akan mengirimkan bantuan 10 ribu ton beras, dan menurut kami, sebaiknya lewat jalur darat. Itu yang kita upayakan,” kata Menteri Luar Negeri Sugiono.

Sugiono menolak opsi airdrop untuk pengiriman beras karena alasan teknis dan keamanan. Meski begitu, Indonesia tetap mempertimbangkan untuk mengirim bantuan lain melalui misi udara. Yordania dan UEA, menjada negara di timur tengah yang terus menggalang bantuan ke Gaza melalui airdrop.

UAE lalu mengajak Indonesia untuk kirim beras dan bantuan lain ke Palestina melalui airdrop. Sayang, pemerintah memilih kirim beras ke Palestina lewat jalur darat.

“Kita berterima kasih kepada Jordan yang mengundang kita ikut airdrop. UAE juga menyampaikan ada beberapa negara yang sudah mendaftarkan diri untuk membantu,” jelasnya.

Ia menambahkan, Kemenlu akan berdiskusi dengan Kementerian Pertahanan untuk membahas teknis pengiriman bantuan. Hingga beras dan bantuan Indonesia benar-benar sampai ke rakyat Palestina.

“Saya sudah meneruskan suratnya ke Kemhan,” tegasnya. (*)