CILACAP – Inflasi Desember di Kabupaten Cilacap, terpengaruh oleh harga sembako. Pada akhir tahun itu mencapai 6,81%.
Cilacap mengalami inflasi sebesar 0,59% (mtm), atau meningkat dibandingkan November sebesar 0,20% (mtm). Inflasi terutama bersumber dari kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar 0,45% (mtm).
Komoditas yang mendorong inflasi antara lain adalah beras, telur ayam ras, rokok kretek filter, emas perhiasaan dan daging ayam ras.
Kepala Perwakilan Rony Hartawan melalui siaran pers menjelaskan, peningkatan harga beras karena menuurunnya pasokan. Desember menjadi momen petani untuk tanam padi hingga pasokan menurun dan membuat harga beras naik.
Sementara harga telur ayam ras dan daging ayam ras juga naik akibat peningkatan permintaan di akhir tahun. Selain itu, curah hujan tinggi mempengaruhi produksi komoditas cabai rawit.
“Secara tahun kalender, inflasi Cilacap tercatat sebesar 6,81% (ytd). Dan capaian inflasi secara tahunan sebesar 6,81% (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis inflasi Desember tahun 2019 sampai dengan 2021 yang sebesar 1,75% (yoy),” terang Rony Hartawan.
Menurutnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Cilacap telah melakukan penguatan sinergi program pengendalian inflasi. Demikian juga penanggulangan dampak inflasi melalui implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Seperti menggelar operasi pasar dan pasar murah untuk komoditas tertentu.
Demikian juga dengan program urban farming melalui gerakan tanam cabai di pekarangan. Atau melakukan Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk komoditas bawang merah dan beras.
“JUga pelaksanaan capacity building dan studi banding TPID,” kata Rony. (*)






