LABUHANBATU UTARA – Keributan terjadi di SMP Negeri 1 Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), saat keluarga siswa korban asusila guru mendatangi sekolah untuk menemui kepala sekolah. Kedatangan mereka justru menerima ucapan bernada kasar dari guru honorer pendidikan jasmani, memicu adu mulut di teras dan ruang guru. Sejumlah guru lain segera mengamankan terduga pelaku untuk mencegah keributan lebih lanjut.
Dugaan tindakan asusila berawal ketika korban mendapat giliran piket pagi membersihkan halaman sekolah. Saat menyimpan kaos kaki di saku rok seragam, guru tersebut menghampiri dan menuduh korban menyimpan narkoba. Tanpa izin, ia memasukkan tangan ke saku korban, hingga menyentuh area sensitif, lalu mengeluarkan kaos kaki, cermin kecil, dan permen.
Guru itu diduga mengulangi perbuatannya dengan memasukkan kembali barang-barang tersebut ke saku korban sambil menyentuh bagian vitalnya. Kejadian ini disaksikan langsung oleh beberapa teman korban.
Usai peristiwa tersebut, korban mengalami perundungan dari teman sekelasnya. Ia kemudian menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Keluarga mencoba menyelesaikan masalah secara kekeluargaan melalui sekolah, namun korban mengaku mendapat intimidasi dari terduga pelaku saat mediasi.
Kepala sekolah bersama pejabat Dinas Pendidikan Labura telah memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak. Meski demikian, guru terduga pelaku membantah tuduhan dan mengklaim tidak melanggar norma budaya maupun agama.
Kasus siswa korban asusila guru ini sudah dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Labura untuk diproses lebih lanjut. (*)






