Bisnis  

Kemendagri Evaluasi Pertashop Milik BUMDes

Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, Yusharto Huntoyungo saat melayani pembeli di pertashop milik BUMDes Planjan, Cilacap, Rabu (15/12/2021). Kemendagri akan mengevaluasi pertashop karena secara nasional belum memenuhi target yang mencapai 10 ribu. (narisakti/bercahayanews.com)

CILACAP – Kementerian Dalam Negeri atau Kemendagri akan melakukan evaluasi pembukaan Pertashop yang melibatkan BUMDes. Hal ini terkait belum terpenuhinya target jumlah pertashop milik BUMDes di seluruh Indonesia.

Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo membeberkan rencana tersebut saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Cilacap, Rabu (14/12/2021).

Menurutnya, Kemendagri menargetkan 10 ribu pertashop hasil kolaborasi BUMDes dan Pertamina. Namun sampai akhir 2021 ini, baru tercapai 34 persen hingga masih sangat jauh dari harapan. Hal inilah yang membuat Kemendagri akan melakuan evaluasi terkait BUMDes yang membuka pertashop.

“Kita akan evaluasi kerja sama seperti ini,” kata dia.

Dia melihat masalah skema bisnis yang belum dipahami oleh masyarakat menjadi salah satu penyebab terhambatnya target Kemendagri. Demikian juga dengan masalah perijinan yang sering menjadi batu sandungan para pengusaha lokal.

“Ini kemudian menjadikan keraguan untuk membuka pertashop,” kata dia.

Tahun depan, kementerian akan melakukan percepatan jumlah BUMDes yang membuka pertashop. Dia melihat hal ini masih ada peluang dan optimisme setelah melihat pertashop di Desa Planjan Kecamatan Kesugihan, Cilacap. Pertashop tersebut sekarang sudah mampu menjual 2300 liter per hari.

“Sudah sekitar 2300 liter per hari. Dengan demikian sudah tiap hari sudah harus mendapatkan suplay dari Pertamina. Ini bisa jadi model pengembangan pertashop kedepan,” kata dia.

“Dan Kabupaten Cilacap, bisa menjadi benchmarking pengembangan pertashop di tempat lain. Karena di sini percepatannya lebih baik dibandingkan tempat lain di Indonesia,” terangnya.

Dia melihat, BUMDes tersebut sudah mampu melibatkan investor lokal hingga unit usaha bisa berkembang. Seperti jasa perbengkelan, menyediakan gas hingga, pelumas dan UMKM.

Ketua BUMDes Planjan, Daryono mengatakan, pihaknya sudah bisa menyumbangkan Rp 7 juta hingga Rp 8 juta perbulan ke desa dan menjadi PADes. Sementara omzet perbulan sudah mencapai Rp 40 juta. BUMDes ini juga memiliki unit usaha lain seperti GOR Futsall, penjualan tiket bus dan lainnya.

“Akhir tahun saya targetkan PADes dari pertashop dan usaha lain bisa mencapai Rp 100 juta,” tegasnya. (*)