News  

Lapas Kutacane Overload. Banyak Napi Tidak Kebagian Kamar

ilustrasi

ACEH – Lapas Kutacane di Kabupaten Aceh Tenggara, ternyata sudah overload alias melebihi kapasitas yang ada. Seharusnya, lapas ini hanya menampung 100 napi. Namun ternyata dijejali dengan 386 napi. Akibatnya, banyak napi yang tidak kebagian kamar.

Peristiwa mengemparkan terjadi di Lapas Kutacane Kabupaten Aceh, yakni saat puluhan napi kabur, Senin(10/3/2025) sore. Mereka melarikan diri dengan cara lompati pagar utama, atau naik ke atap lapas. Aksi ini terjadi hanya beberapa saat sebelum waktu buka puasa.

Informasi yang beredar menyebutkan, para napi menggunakan berbagai metode untuk meloloskan diri. Ada yang melompati pagar depan lapas, memanjat tembok, hingga membobol atap sebagai jalur pelarian. Total ada ada 52 tahanan yang melarikan diri. Namun di hari yang sama, petugas menemukan kembali 12 napi.

Malam setelah kejadian, Bupati dan Kapolres Aceh Tenggara memberikan penjelasan tentang kronologi dan penyebab peristiwa itu. Salah satu penyebabnya adalah overload penghuni lapas hingga terjadi keributan.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Mashudi, mengaku prihatin dengan kondisi ini.

“Saya sangat prihatin ada warga binaa yang harus tidur di luar kamar hunian karena kamar hunian yang ada tidak mencukupi. Kapasitas (Lapas Kutacane) yang hanya untuk 100 orang, harus terisi 386 orang, overcapacity lebih dari 300 persen. Sedangkan kekautan petugas penjagaannya 24 orang dengan tujuh orang per shift,” katanya.

Dia berharap agar ada dukungan dari semua pihak untuk pembenahan dan perbaikan Lapas Kutacane.

“Kami mohon dukungannya untuk bapak Bupati, anggota dewan (Komisi XIII DPR RI) dan semua pihak yang terkait,” harapnya.

Anggota Komisi XIII DPR RI, Teuku Ibrahim memastikan siap untuk mendukung pembangunan baru Lapas Kutacane. Upaya ini bisa menjadi jalan pemecahan atas overload yang ada di Lapas Kutacane. Apalagi, sudah ada hibah tanah dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk relokasi lapas.

“Kita siap dukung pembenahan Lapas Kutacane yang sudah sangat-sangat overload,” tegas Teuku Ibrahim. (*)