CILACAP – Tiap kali peringatan Hari Santri Nasional, selalu ada pembicaraan tentang santri dan dunai pondok pesantren. Termasuk diskusi yang mencoba menggali makna dari kata santri tersebut.
Menurut Ketua Pengurus Cabang Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PC LPTNU) Cilacap, H Dr Masngudi, membeber makna santri. Dalam pandangan Nahdlatul Ulama (NU), santri tidak terbatas pada seseorang yang belajar di pesantren.
Kata santri punya makna yang lebih luas sebagai identitas spiritual, intelektual, dan kebangsaan yang melekat pada setiap individu yang meneladani nilai-nilai ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Santri bukan hanya mereka yang mondok. Santri adalah siapa pun yang menjunjung tinggi ajaran Islam rahmatan lil alamin, berakhlak mulia, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial serta kebangsaan,” ujar H Dr Masngudi.
Dalam pandangan NU, santri adalah pemegang teguh prinsip Habluminallah dan Habluminannas. Yakni menjaga hubungan dengan Allah sekaligus berbuat baik kepada sesama manusia. Santri juga dianggap sebagai pewaris perjuangan para ulama dan kiai dalam menjaga akidah, amaliah, serta semangat kebangsaan.
Di lingkungan perguruan tinggi, lanjutnya LPTNU berupaya melahirkan santri yang berilmu pengetahuan luas sekaligus berakhlak mulia. Penguasaan ilmu agama harus berjalan seiring dengan penguasaan ilmu umum dan teknologi agar santri mampu beradaptasi di era digital.
“Santri modern harus kritis, adaptif, dan siap menjadi agen perubahan. Mereka bukan hanya sholihun, tapi juga muslihun. Yakni baik sekaligus membawa perbaikan bagi masyarakat,” ujarnya yang juga Rektor INSIMA Majenang.
Menurutnya, santri juga memiliki peran penting dalam memperkuat semangat kebangsaan. Dalam sejarahnya, santri menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan menjaga keutuhan bangsa. Karena itu, LPTNU mendorong santri untuk meneladani semangat jihad kebangsaan yang berpijak pada nilai-nilai Islam dan cinta tanah air.
Baginya, makna santri kini mencerminkan sosok pembelajar seumur hidup yang menjunjung tinggi tradisi keilmuan Islam Nusantara, berorientasi pada kemaslahatan dunia dan akhirat, serta siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa di tengah tantangan modern. (*)






