NGAMPRAH – Kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Kabupaten Bandung Barat (Kembara) Desak Pemerintah Evaluasi MBG setelah insiden keracunan massal menimpa pelajar di Bandung Barat, Kamis, 25 September 2025.
Mereka menyebut kasus ini serius karena mengancam keselamatan anak bangsa. Kembara Desak Pemerintah Evaluasi MBG agar pemerintah segera mengambil langkah konkret memperbaiki jalannya program.
Kembara Tegaskan Insiden Bandung Harus Jadi Evaluasi Serius
Ketua Kembara, Rizqi Mubarok Hadadi, menilai MBG memang punya tujuan baik, tetapi implementasinya belum aman.
Ketua Kembara, Rizqi Mubarok Hadadi, menilai MBG memang punya tujuan baik, tetapi implementasinya belum aman.
Menurut Rizqi, keracunan berulang menunjukkan lemahnya pengawasan dan standar makanan. Ia kembali Desak Pemerintah Evaluasi demi menjamin kesehatan pelajar yang harus menjadi prioritas utama.
Data Dinas Kesehatan Bandung Barat mencatat tiga kasus keracunan dalam tiga hari. Korban lebih dari 1.000 pelajar di Cipongkor dan Cihampelas. Fakta ini membuat Kembara semakin Desak Pemerintah Evaluasi agar kasus serupa tidak terulang.
Insiden pertama muncul di dapur MBG Kampung Cipari, Desa Cijambu, Cipongkor, dengan 475 korban. Sementara itu, distribusi MBG dari Kampung Pasirsaji, Desa Neglasari, menelan lebih dari 500 korban. Adapun di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, sekitar 60 siswa SMK 1 Cihampelas ikut menjadi korban keracunan.
Rizqi Desak Pemerintah Evaluasi MBG dengan meminta Bupati segera membenahi situasi dan melakukan evaluasi menyeluruh pada seluruh dapur MBG di Bandung Barat.
Kembara juga Desak Pemerintah Evaluasi MBG lewat usulan audit independen. Tim ini harus melibatkan akademisi dan pakar gizi untuk meninjau pengadaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.
“Bupati tidak boleh diam. Situasi harus segera dibenahi agar keracunan tidak terus bertambah. Karena itu, kami kembali Desak Pemerintah Evaluasi MBG,” tegas Rizqi. (*)






