News  

Misteri Quran Kuno. Siapa penulisnya?

Keberadaan Quran kono tulis tangan di Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu, Cilacap masih menjadi misteri terkait asal usul ataupun penulisnya. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Keberadaan Al Quran kuno di Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu, Cilacap jadi misteri tersendiri dan belum ada jawaban pasti. Termasuk asal usul kita suci umat islam tersebut hingga sampai berada di pegunungan sisi barat Kabupaten Cilacap.

Warga Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu, Cilacap simpan Al Quran kuno berumur 150 tahun lebih dan dalam bentuk tulis tangan. Kitab suci ini sekarang tersimpan di ruang khusus di rumah keluarga tersebut. Quran tersebut warisan turun temurun dari kakek moyang keluarga itu.

Kamil Bin Sanraji, salah satu anggota keluarga penyimpan Quran kuno ini mengatakan, ada angka tahun hijriyah di bagian akhir mushaf tersebut.

“Ada kalimat yang menyebutkan akhir dari penulisan Quran ini. Yakni 1294 hijriyah atau sekitar 1873-an masehi,” ujar Kamil.

Saat bercahayanews.com bertanya tentang asal usul Quran tulis tangan ini, tidak ada jawaban pasti dari Kamil. Menurutnya, butuh penelusuran pasti tentang siapa yang membawa kitab suci ini.

“Sampai sekarang saya sendiri belum menelusuri sampai sejauh itu. Penulis atau siapa yang bawa quran kuno ke sini, masih jadi misteri,” kata dia.

Melihat silsilah keluarga ini, maka kemungkinan pertama adalah Quran tulis tangan dan sudah tua ini dibawa oleh kakek moyangnya. Adalah Nur Sholeh yang menurut keluarga ini, dipercaya merupakan ajudan Pangeran Diponegoro.

Nur Sholeh kemudian memiliki anak Nur Kandan. Dari Nur Kandan inilah keturunannya selama bertahun-tahun tinggal di Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu, Cilacap. Mulai dari Nur Zain, Abdullah Sayuti dan Mbah Muslim. Nama terakhir sudah meninggal 2012. Kamil sendiri merupakan menantu dari Mbah Muslim.

“Bisa jadi seperti itu (dibawa Nur Sholeh),” kata dia.

Namun demikian, Kamil juga melihat ada kemungkinan lain tentang penulis Quran tulis tangan tersebut. Dia menyebut Nur Jalin, salah satu saudara dari Nur Sholeh. Ulama ini mampu menulis huruf jawa pegon dengan baik.

“Mungkin juga karena beliau meninggalkan buku berisi silsilah torekoh. Hurufnya juga mirip-mirip,” tegasnya. (*)