Pasar Tradisional Ditinggalkan Pembeli

  • Bagikan
Suasana sepi di Pasar Majenang meski baru memasuki pukul 11.30. Selama pandemi, penurunan pengunjung pasar di sana mencapai 50 persen. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Pandemi yang sudah berlangsung sejak 2020 lalu, membawa dampak besar dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah sepinya aktifitas jual beli di pasar tradisional. Sebagian pasar tradisional di Kabupaten Cilacap mulai ditinggalkan pembeli.

Salah satunya adalah Pasar Majenang. Tempat ini sekarang jarang dikunjungi warga umum hingga nampak sangat lengang. Kondisi pasar sepi pembeli ini sudah terasa ketika menjelang tengah hari.

“Pembeli dari warga umum jarang sekali. Kalaupun datang ke pasar hanya sebentar saja,” ujar Kepala Pasar Majenang, Paino, Selasa (24/8/2021).

Dia mengatakan, penurunan jumlah pengunjung pasar kian terasa sejak pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Saat ini penurunan tersebut mencapai 50 persen.

Sementara pengunjung pasar yang rutin berbelanja di sana adalah orang tertentu saja. Seperti pemilik warung, pedagang sayur keliling dan sejenisnya. Mereka yang lebih banyak berperan membantu pedagang pasar agar bisa tetap bertahan.

“Pembeli mayoritas pelanggan rutin. Seperti pedagang sayur keliling atau pemilik warung,” katanya.

Menurutnya, hal ini berpengaruh terhadap harga barang kebutuhan pokok di masyarakat. Yang paling terasa adalah harga beras yang dirasa sangat stabil. Demikian juga dengan barang kebutuhan sehari-hari lainnya. Harga komoditas ini jarang sekali mengalami lonjakan, baik peningkatan ataupun penurunan secara drastis.

“Karena jarang yang beli, harga jadi stabil,” katanya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Majenang, Tatang Samsudin Koyon. Efek dari penurunan jumlah pengunjung pasar ini membuat permintaan barang dari pedagang ke distributor berkurang. Ini terlihat dari frekuensi kedatangan armada distributor ke pasar.

“Yang biasanya datang seminggu sekali, sekarang ada yang sebulan dua kali. Tetap datang, hanya frekuensinya berkurang. Tidak ada yang berhenti total,” kata dia.

Dia menambahkan, pasar ini sedikit tertolong oleh pembeli dari luar Cilacap. Sebut saja pembeli dari Kecamatan Salem Kabupaten Brebes. Pembeli dari kabupaten tetangga barat laut Cilacap ini selalu datang untuk berburu berbagai kebutuhan pokok.

“Bisa dikatakan pasar ini tertolong oleh pembeli dari Salem,” tegasnya. (*)

  • Bagikan