Pelabuhan Cilacap Mati Suri Karena Pandemi

  • Bagikan
Kapal saat beraktifitas di Pelabuhan Cilacap. Menteri Perhubungan menilai fungsi Pelabuhan Cilacap tidak maksimal karena pengaruh pandemi. (doc)

CILACAP – Pelabuhan Cilacap mati suri selama masa pandemi. Kegiatan bongkar muat di sana berkurang drastis karena banyak pembatasan dan menurunnya aktifitas pelayaran. Terutama pelayaran internasional.

Saat pandemi, Pelabuhan Cilacap sempat menjadi sorotan karena ada kasus 13 ABK KM MV Hilma Bulker terpapar positif pada April 2021. 3 ABK tersebut merupakan negara Filipina. Kapal ini membawa gula rafinasi dari India, dan sampai di Cilacap pada 25 April 2021.

Hasil pemeriksaan lanjutan memastikan, 13 ABK ini terjangkit varian India. 1 ABK kemudian meninggal dunia saat masih dalam perawatan di RSUD Cilacap.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melihat Pelabuhan Cilacap mati suri akibat pandemi hingga tidak maksimal. Faktor utamanya karena pandemi yang membatasi berbagai aktifitas masyarakat. Termasuk aktifitas pelayaran dalam dan luar negeri.

“Kita lihat pelabuhan ini tidak maksimal,” kata Budi.

Budi menambahkan, Kementerian Perhubungan tengah mencari jalan keluar agar masalah ini bisa teratasi. Tujuannya agar fungsi pelabuhan sebagai penghubung antar daerah, terutama di Jawa bagian selatan bisa kembali normal.

Dia mengakui, Pelabuhan Cilacap sangat strategis karena letaknya ada di pesisir selatan Jawa. Selain itu, pelabuhan ini menjadi fasilitas laut terbesar di Jawa selatan.

“Pelabuhan paling besar di selatan Jawa ada di Cilacap,” kata Menteri.

Dia juga sudah berdiskusi dengan Bupati serta jajaran Forkompinda Cilacap untuk bersama-sama mengatasi kondisi tersebut.

Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji berharap agar pelabuhan ini bisa segera bergairah kembali. Dengan demikian, Cilacap sebagai salah satu kota pelabuhan bisa “hidup kembali”.

“Dulu sudah dibangun. Kami minta bisa diaktifkan lagi agar kota ini bisa hidup,” tegasnya. (*)

  • Bagikan