Pembagian Beras Susah Hindari Kerumunan

  • Bagikan
Pembagian beras warga terdampak PPKM dari Kemensos RI, dipersiapkan agar tidak menimbulkan kerumunan. (doc)

CILACAP – Tekhnis penyaluran beras bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI, sempat membingungkan sejumlah pihak. Pertama karena jumlah penerima tiap desa tergolong banyak.

Kekhawatiran ini dirasakan oleh desa dengan jumlah penerima Bantuan Sosial Tunia (BST) dan peserta Program Keluarga Harapan (PKH), tergolong banyak. Yang menjadi kekhawatiran adalah menghindari kerumunan.

Ditambah dengan jadwal penyaluran yang hanya sehari. Kerumunan ini akan sulit dihindari karena ada penumpukan para penerima dalam satu hari.

Sebut saja jika dalam satu desa ada 1000 paket bantuan. Sementara penyaluran harus selesai dalam satu hari.

“Kalau penerima hanya 100 mungkin gampang. Tapi ini seribu lebih,” ujar Kepala Desa Jenang Kecamatan Majenang, Cilacap, Carsito.

Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kabupaten Cilacap, Tindar Aji menjelaskan, sudah ada skenario pembagian beras dan sempat dirapatkan dengan dinas terkait.

Skenario pertama adalah membagikan beras untuk peserta PKH dan BST. Misalnya peserta PKH mengambil bantuan pada pagi hari. Menyusul kemudian kelompok BST. Hanya saja, ada kekhawatiran para penerima ini justru datang bersamaan pada pagi hari.

Skenario kedua adalah membagikan berdasarkan wilayah dusun. Hingga tidak ada lagi pembagian PKH dan BST.

“Ini kemudian jadi keputusan. Pembagian dipisah berdasarkan (asal) dusun,” tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kemensos RI memutuskan untuk membagikan bantuan bagi warga terdampak PPKM. Bantuan ini berupa beras dan tekhnis pengiriman ke desa melibatkan pihak ketiga. (*)

  • Bagikan