Pemeriksaan Perusakan Terhenti Gara-gara Pelaku Isoman. Ngamuk Karena Ibunya Meninggal Akibat Covid19

  • Bagikan
Kapolres Cilacap AKBP Leganek Mawardi memberikan keterangan terkait kasus perusakan RSUD Cilacap oleh keluarga pasien Covid19, Kamis (5/8/2021). Proses pemeriksaan sempat terhenti karena pelaku terpapar Covid19. (narisakti/bercahayanews.com)

CILACAP – Petugas penyidik Polres Cilacap dipaksa harus mengelus dada. Mereka juga harus lebih bersabar lagi saat memeriksa pelaku perusakan di RSUD Cilacap. Penyebabnya karena pelaku yang mengamuk gara-gara ibunya meninggal saat dalam perawatan Covid19, justru dinyatakan positif.

Pelaku bernama JTS alias JF (28), warga Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap lalu harus menjalani isolasi mandiri (isoman). Selama itu pula, penyidik tidak bisa berbuat banyak dan menunggu pelaku selesai menjalani isolasi di rumahnya.

Kapolres Cilacap, AKBP Leganek mengatakan, pemeriksaan ini dilakukan setelah JTS melakukan perusakan di ruang Amarilis, RSUD Cilacap pada 25 Juni 2021. Pelaku saat itu datang ke sana setelah menerima kabar ibunya kritis. Sesampai di ruang perawatan, justru kabar duka yang diterima hingga pelaku langsung meluapkan emosi dengan merusak kaca, meja dan sejumlah peralatan medis.

“Pengrusakan ini dipicu oleh emosi tersangka JTS. Dia dapat kabar ibunya kritis dan mendatangi rumah sakit. (Sampai di rumah sakit) dapat kabar ibunya meninggal hingga emosi lalu memecahkan kaca, meja dan peralatan medis sampai rusak dengan menggunakan tangan. Tangan pelaku sampai berdarah,” terang Kapolres Cilacap, AKBP Leganek saat memberikan keterangan di hadapan awak media, Kamis (5/8/2021).

Menurut Kapolres, pelaku lalu diamankan oleh Satpam RSUD Cilacap. Pelaku juga ditenangkan oleh keluarganya sampai kemudian dibawa ke IGD untuk merawat luka di tangannya. Usai perawatan, pelaku harus berhadapan dengan petugas Polres Cilacap.

Dan saat proses pemeriksaan inilah, dia justru dinyatakan terpapar Covid19 dan harus menjalani isolasi mandiri (isoman). Hal ini memaksa petugas penyidik menghentikan sementara proses pemeriksaan karena pelaku harus menjalani isolasi mandiri (isoman).

“Dan setelah dilaksanakan pemeriksaan kejadian pada 25 Juni, yang bersangkutan giliran positif, sehingga merasakan sendiri isoman. Teman-teman yang melaksanaan pemeriksaan akhirnya agak mundur. Baru bisa dilaksanakan lagi pada tanggal 21 Juli (2021),” kata Kapolres.

Dia memastikan berkas penyidikan tersebut sudah lengkap dan siap dilimpahkan ke Kejaksaan Cilacap guna proses lebih lanjut.

“Tersangka terancam hukuman 2 tahun 8 bulan,” kata dia.

Dia berharap agar kejadian ini menjadi cermin bagi masyarakat agar lebih bisa mengendalikan emosi. Apalagi saat ini tengah dalam masa pandemi dan banyak kasus Covid19 di Kabupaten Cilacap. Banyak dari warga yang merasa tertekan karena keluarga harus diiolasi di rumah sakit. Bahkan banyak keluarga tidak bisa melihat jenasah untuk yang terakhir kali.

“Ini jadi pembelajaran bersama,” tegasnya.

JTS alias JF kepada awak media mengaku tidak mampu mengendalikan emosi. Penyebabnya karena tidak mendapatkan kabar ibunya sejak Jumat (25/6/2021) pagi. Sejak pagi dirinya sudah mencoba menghubungi nomor telepon genggam ibunya dan pihak RSUD.

“Saya coba hubungi rumah sakit tapi tidak ada jawaban. Siang baru dikabari kalau ibu kritis,” kata dia.

“Saya khilaf karena emosi. (*)

  • Bagikan