News  

Pertama Kali Ikut, Iwan Bikin Sial Perampok BRI Link

Tangkapan layar dari video amatir yang memperlihatkan 3 rampok bersenpi saat pergi dari agen BRI Link di Kecamatan Kedungreja, Cilacap. Kawanan perampok BRI Link ini sial karena ada 1 anggota yang baru pertama kali terjun sebagai eksekutor. (doc)

CILACAP – Kawanan perampok agen BRI Link di Desa Kaliwungu Kecamatan Kedungreja, Cilacap bernasib sial. Mereka akhirnya tertangkap petugas Jatanras Polda Jawa Tengah bersama Reskrim Polresta Cilacap di tempat berbeda. Salah satu faktor kesialan ini karena ada pelaku yang baru pertama kali terjun sebagai eksekutor.

Sudah menjadi rahasia umum kalau kawanan perampok selalu ada pembagian tugas. Peran mereka terbagi dari otak, perencana hingga eksekutor.

Iwan, adalah salah satu anggota komplotan perampok Agen BRI Link. Dia biasanya hanya bertugas membuat gambar atau denah lokasi. Demikian juga saat menyusun rencana dan denah bersama Sudiono sebelum mereka mendatangi agen BRI Link milik Nasirun.

Namun entah kenapa, Iwan akhirnya ikut sebagai eksekutor bersama Sudiono dan Buang. Dalam aksi ini, kawanan perampok agen BRI Link ini sukses meraup uang Rp 100 juta. Namun pada akhirnya, mereka tertangkap petugas.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Ahmad Luthfi menjelaskan kalau Iwan dan Sudiono membuat gambar di rumah kerabat Sudiono di Desa Kaliwungu, Cilacap. Penyiapan rencana ini 10 hari sebelum aksi mereka pada Irjen Ahmad Luthfi.

“Perencanaan 10 hari sebelum action, atau tanggal 17 Maret,” katanya.

Usai membuat gambar, Sudiono lalu pulang ke Palembang dan kembali beberapa hari sebelum aksi perampokan yang viral di media sosial itu. Kawanan ini menembak 2 orang yakni Nasirun dan Gunawan yang hendak memberikan pertolongan. Pelaku ini tercatat 4 kali menembakan senjata api rakitan dan meninggalkan proyektil di lokasi. 2 proyektil petugas ambil dari kaki Gunawan dan Nasirun.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Tad Yasin mengapresiasi langkah cepat Polda Jawa Tengah. Apalagi mereka didukung dengan data yang akurat dan lengkap hingga proses mempercepat penangkapan pelaku. Seperti data kejadian di Yogyakarta tahun 2013 dan Bekasi

“Ini menandakan data di kepolisian sangat lengkap,” katanya. (*)