Pohon Peneduh “Dipangkas Habis”. Ranting Rawan Patah

  • Bagikan
Pemangkasan pohon peneduh di jalur hijau dilakukan Disperkimta Cilacap guna menghindari ranting patah saat musim penghujan. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Pohon peneduh di tepi jalan nasional di Kabupaten Cilacap, harus kehilangan “ke-angker-an” karena dipangkas. Tidak tanggung-tanggung, pemangkasan pohon ini menghilangkan mayoritas dahan dan ranting di jalur hijau. Hingga menyisakan batang utama tanpa terlihat adanya dahan, ranting dan dedaunan. Hilanglah kesejukan dan nuansa teduh.

Pemangkasan pohon ini sudah menjadi agenda Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (Disperkimta) Kabupaten Cilacap. Lokasi pemangkasan pohon peneduh ini antara lain di ruas utama Majenang. Jalur ini sudah ditetapkan menjadi jalur hijau oleh Pemerintah Kabupaten Cilacap.

Koordinator Petugas Disperkimta Wilayah Majenang, Irawan Setiadi mengakui pemangkasan di jalur hijau oleh pekerja ini tidak bisa dihindari. Termasuk langkah memangkas mayoritas dahan dan ranting sampai habis karena pertimbangan tertentu.

“Terutama pohon jenis jarak roda,” ujar Irawan, Rabu (1/9/2021).

Dia mengatakan, dahan dan ranting pohon ini sangat mudah patah ketika terkena angin kencang. Demikian juga saat hujan deras turun. Hingga dikhawatirkan akan menimpa pengguna jalan atau warga yang kebetulan tengah berteduh di sana.

Ditambah lagi, ada peringatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan datangnya hujan deras di awal musim. Hujan deras ini memang mulai dirasakan warga Kabupaten Cilacap sejak akhir Agustus 2021.

“Ada peringatan dari BMKG kalau awal musim sering hujan deras,” katanya.

Dia mencontohkan kejadian beberapa tahun lalu saat ada pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang. Pohon ini tumbang dan menimpa mobil yang tengah parkir hingga mengalami kerusakan di bagian atap.

“Pernah ada pohon tumbang dan menimpa mobil,” kata dia.

Pertimbangan lain, katanya adalah adanya jaringan kabel listrik dan telepon tepat di bawah dahan pohon peneduh. Jika dahan ini patah, dikhawatirkan akan terkena jaringan kabel listrik dan memunculkan percikan api. Hal ini tentunya akan membahayakan banyak orang. Termasuk pelanggan PLN yang ada di dekat lokasi kejadian karena arus pendek bisa membuat kerusakan alat elektronik di rumah warga.

Karena itulah, pihaknya mau tidak mau memangkas pohon tersebut hingga menyisakan batang dan dahan utama saja. Sementara ranting dan dedaunan hijau hilang untuk sementara waktu.

“Paling tinggal itu (batang). Tapi akan cepat tumbuh lagi karena memang jenisnya mudah rimbun. Tapi hanya pohon jarak roda yang memang gampang sekali patah. Seperti yang ada di komplek alun-alun dan taman makam pahlawan Majenang,” tegasnya.

Mayoritas pohon peneduh di jalur hijau di Kecamatan Majenang, Cilacap sudah tua hingga rawan patah atau tumbang. Pada akhir 2019 lalu, sejumlah pohon tumbang karena diterjang angin kencang dan menimpa motor yang tengah parkir di jalur hijau. (*)

  • Bagikan