RDF Tekan Potensi Perluasan TPA

  • Bagikan
Keberadaan RDF di Cilacap menekan potensi penambahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. (doc)

CILACAP – Fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau yang juga dikenal dengan Refuse Derived Fuel (RDF) di Kabupaten Cilacap, telah beroperasi selama setahun terakhir. Fasilitas ini pertama kali diresmikan pada 21 Juli 2020. Fasilitas ini telah memberikan manfaat dengan solusi berkelanjutan bagi permasalahan sampah di Kabupaten Cilacap.

RDF di Cilacap selama setahun sudah mengolah 47 ribu ton sampah menjadi bahan bakar alternatif. Tentu saja hal ini menekan potensi pencemaran air dan udara di wilayah tersebut.

Namun manfaat dari tempat ini masih sangat luas. Salah satunya adalah meminimalisir potensi pengadaan lahan untuk dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Potensi jangka panjang ini tentu akan menguntungkan semua pihak. Baik masyarakat maupun pemerintah kabupaten.

Hal ini diungkapkan oleh Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, Wasi Aryadi. Dalam siaran pers yang diterima bercahayanews.com disebutkan, potensi pengadaan lahan akan sangat mungkin dibutuhkan dalam jangka panjang. Namun potensi ini berhasil ditekan karena RDF mampu mengolah limbah domestik tanpa harus ditumpuk di lokasi tertentu.

“Tidak ada investasi pengadaan lahan untuk lokasi penumpukan sampah,” ujar Wasi.

Dia menambahkan, RDF ini juga menjadi wahana edukasi bagi masyarakat. Terutama dalam hal pemanfaatan barang bekas dengan memilah dan memilih limbah. Dengan demikian, barang yang dibuang dan diangkut memang sudah benar-benar tidak bisa dipakai sama sekali.

“RDF telah mampu membuat paradigma baru cara memanfaatkan sampah. Sampah masih memiliki nilai ekonomis “ ungkap Wasi Aryadi yang juga menjabat Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Cilacap.

Dia menerangkan, limbah domestik yang diolah RDF dijadikan bahan bakar alternatif pengganti batu bara. Dan produk ini dimanfaatkan oleh pabrik semen yang ada di Kabupaten Cilacap.

Sampah kering yang dihasilkan dari fasilitas pengolahan sampah yang siap dibakar di pabrik semen memiliki kadar air di bawah 25 persen. Untuk mencapai kadar air tersebut proses pengolahan sampah menggunakan metode pengeringan Bio Drying selama 21 hari. (*)

  • Bagikan