SOLO – Presiden Prabowo Subianto sempat membuat lelucon dengan usul adanya fusi atau menggabungkan banyak partai di Indonesia, hingga tinggal 1 partai saja. Namun usulan ini langsung dia jawab sendiri dan tidak mungkin terjadi di Indonesia.
Usulan dan lelucon ini terjadi saat Prabowo memberikan sambutan di penutupan Kongres PSI. Di awal pidato, Prabowo memberikan salam kepada tamu undangan. Mulai dari menteri dan pejabat serta ketua partai.
Ketika menyebut nama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Presiden Prabowo diam beberapa saat dan seperti tengah berfikir keras. Dia lalu menyebut kata Golkar usai berfikir lama.
“Hampir saya sebut Gerindra (bukan Golkar),” katanya seperti tayang di youtube milik PSI.
“Apa ujungnya kita semua fusi saja ya, jadi satu partai,” usul Prabowo yang disambut tawa semua orang.
Prabowo langsung membalas sendiri usul fusi jadi satu partai ini dan melarangnya. Karena usul ini bertentangan dengan nilia dasar demokrasi yang sangat lekat dengan sistim multypartai.
“Ga boleh, ga boleh. Nanti kita jadi tidak demokratis,” katanya.
Prabowo melanjutkan, sistim multy partai juga memberikan gambaran tentang keberagamaan Indonesia. Yakni sejalan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Karena itulah, Prabowo menginginkan agar sistim demokrasi di Tanah Air juga sejalan dengan semboyan yang sangat Indonesia. Dalam demokrasi ini, semua orang boleh berkompetisi dan bertarung dalam pemilihan umum.
“Kita ini Bhineka Tunggal Ika, kita berbebeda, tapi kita bersatu dalam cinta tanah air,” kata Prabowo.
“Kita kompetisi. Tapi selesai kompetisi kita bersatu mengabdi kepada bangsa dan negara. Ini demokrasi Indonesia yang sebenarnya,” tegasnya.
Fusi atau penggabungan partai politik seperti usul Prabowo, bukanlah hal baru. Sejarah mencatat pernah ada fusi partai di era Presiden Soeharto pada 1973. Sejumlah partai berideologi nasionalis bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Sementara partai-partai Islam, membaur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). (*)






