JAKARTA — Skandal beras oplosan kembali mencuat ke publik setelah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian membongkar praktik curang dari sejumlah perusahaan besar. Tito mengungkap bahwa aksi pengoplosan beras medium menjadi beras premium telah menyebabkan kerugian negara yang sangat besar. Kerugian ini mendekat angka Rp100 triliun.
“Belum lagi yang oplosannya. Beras kualitas premium digabung dengan kualitas medium, lalu dijual sebagai premium. Pelakunya justru perusahaan-perusahaan besar,” tegas Tito.
Menurut Tito, praktik dan skandal beras oplosan ini tidak hanya menipu konsumen. Tetapi juga memperparah tekanan ekonomi masyarakat, saat stok beras nasional melimpah. Ini berdasarkan data stok beras Perum Bulog telah menembus angka 4 juta ton.
“Rakyat yang seharusnya terbantu dengan stok pangan yang besar, justru makin menderita karena harga beras premium naik tidak wajar akibat permainan curang ini,” ujarnya.
Tito membeberkan dua modus utama dalam skandal beras oplosan tersebut. Pertama, pengurangan isi dalam kemasan. Dari seharusnya 5 kilogram ternyata hanya berisi 4,5 kilogram. Kedua, mengemas ulang beras medium dan melepas ke pasaran dengan harga tinggi sesuai harga beras presmiu. .
“Setengah kilo dikorupsi per kantong, dikali jutaan kantong. Ini penipuan massal. Seperti yang disampaikan Presiden, ini bentuk kejahatan ekonomi besar yang merugikan rakyat,” kata dia.
Selain skandal beras oplosan, Tito juga menyoroti buruknya sistem distribusi beras yang berujung pada meroketnya harga di berbagai daerah. Ironisnya, lonjakan harga justru terjadi di kawasan lumbung pangan nasional. Seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara, dengan harga mencapai Rp54.772 per kilogram.
Ia menegaskan, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan persoalan harga beras sebagai isu prioritas yang harus segera ada penanganan. Demikian juga dengan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Harga beras ini bukan sekadar isu ekonomi, tapi juga soal keadilan sosial bagi rakyat kecil,” pungkas Tito. (*)






